Bidadari Profesor

Naskah Buku *Raihlah Surgamu* (Renungan tentang Cinta dan Kehidupan)

Kearifan Seorang Kyai Muda

Catatan Pengantar: Berikut ini kutipan (dengan sedikit revisi) dari sebuah dongeng panjang yang pernah ditayang secara bertahap (empat kali) di milis Aisha Chuang <http://groups.yahoo.com/group/ac4×3>. Setelah itu, di bawahnya terlampir sebuah email yang menanggapi dongeng tersebut, beserta tanggapan balik dari si penulis dongeng, Dewi Pelangi. (Dalam pengamatan kami, si pendongeng dan sang kyai muda yang diceritakan di sini telah sedikit-banyak menerapkan ilmu-ilmu cinta dan pembelajaran islami yang kami sajikan di buku yang sedang Anda pegang ini.)

Hari Ke-1: Perkenalan

Aduh! Jangan keras-keras kau tendang dinding rahim Ibu, Nak! Ngangkut perut gendut ke sana kemari aja repotnya minta ampun, tambah kau terjang-terjang pula. Sakiiit… Kan udah Ibu bacain dua curhat penenang jiwa: “Pesan Misterius dari Masa Depan” dan “Ketika Musim Penasaran Tiba”. Jiwamu jadi tenang, kan? Kok kamu masih nendang-nendang?

Oooo…. Minta Ibu dongengi lagi, ya? Mau belajar dan belajar lagi sejak di dalam rahim? Siiip…

Oke, Nak. Kalau itu maumu, ayolah kita ke perpustakaan. Ibu bacain teks dari internet dan buku. Tenang-tenanglah kau bernaung di rahim Ibu.

Mau nengok situs mana dulu? Forum MyQuran lagi? Walaaah… Baru di dalam kandungan aja kau sukanya main ke www.myquran.org/forum. Besar nanti kau jadi apa, ya?

Jadi moderator MyQuran? Ada-ada aja kau, Nak. Cita-cita kok gitu… Eh, gak pa pa. Bagus, kok. Denger-denger, sejak jadi moderator, mbak Rini ngetop abis, loh. Pemirsa yang naksir dia ada satu, dua, tiga, … seribu. Wow! Banyak banget. (Ssstt… Jangan keras-keras kau teriakkan kekagumanmu kepadanya. Lihat! Rona wajah mbak Rini berubah jadi merah, tuh.)

Kangen pengen nengok lagi halaman “Problematika Remaja Islam” yang dimoderatori mbak Rini? Iya, deh… Waaah, seru, nih. Heboooh… Lagi-lagi, soal pacaran diributin. Sampe dibikinin lomba esai segala.

Dug dug dug… Jantung panitia berdegub kencang. Hari gini lom ada yang posting? Dah tiap detik ditongkrongin, kok belum ada jua yang nongol? “Ikutan lomba, dong!” kata hati panitia harap-harap cemas.

Dug dug dug… Waaah, jantungmu juga berdebar-debar? Penasaran pengen segera Ibu bacain postingan para peserta? Sabar, ya, Nak.

Hmmm… Ketimbang bengong doang nunggu tampilnya peserta yang tak kunjung datang, yuk kita browsing. Kita manfaatin search engine. Kita pake kata kunci “pacaran islami”.

Kenapa Ibu pilih kata kunci ini? Sebab, istilah yang didengang-dengungkan oleh mas Shodiq & mbak Aisha dkk inilah yang bikin heboh forum kita. Diam-diam, sebagian pemirsa bersyukur lantaran merasa seolah dihembus angin surga. Mereka percaya, “Pacaran Islami ternyata ada!” Tapi, nggak sedikit pula yang ngerasa geregetan ‘n blingsatan bagaikan kebakaran jenggot. “Mana mungkin ada pacaran islami?” seru mereka melontarkan keraguan.

Begitu berkobarnya api membakar jenggot mereka, sampai ada yang terang-terangan ngajuin hujatan di forum MyQuran. Salah satunya berjudul “Hujatan awal utk buku: Wahai Penghujat Pacaran Islami karya Muhammad Shodiq”. Mau Ibu bacain, Nak?

Boleeeh. Ibu bacain, deh. Tapi, dikit-dikit aja, ya. Ibu mesti nyensor, nih. Soalnya, Ibu merasakan nada-nada emosional di dalam penyampaian hujatan itu. Ibu was-was, jangan-jangan kamu yang baru mendekam di dalam kandungan ini bakal tertular kebiasaan yang kurang sopan itu. Belum lagi bila kita pertimbangin bahwa situs ini terbuka. Siapa pun bisa ikutan baca. Tak terkecuali orang-orang yang belum memeluk agama Islam. Andai mereka baca postingan itu, aduuuh…. Hendak ditaruh di mana, muka Ibu?

Perasaan Ibu terlalu peka ‘kali, ya. Sampe malu segala… Ibu kepikiran: Bagaimana mungkin mereka yang nonmuslim itu tertarik kepada Islam jika kita tampil dengan wajah bak Giant, bahkan di hadapan saudara sendiri sesama muslim? (Masih inget Giant, kan? Itu… si anak galak di komik Doraemon.) Kenapa kita nggak kayak Doraemon aja? Percuma, dong, kita koar-koar, “Islam suka damai”, “Islam bukan agama terorisme”, ….

Kelak, Nak, kalau kamu jadi moderator, tolong tegur peserta diskusi yang kurang santun gitu, ya! Mau, kan?

Makasih atas kesediaanmu, Nak. Kini Ibu bisa lebih tenang ngebacain teks. Eh… Masih ada satu ganjalan. Ibu rasa, mungkin ada ‘orangtua angkat’ kamu yang mau ngedongengin kamu pula. Makanya, sebelum ngelanjutin cuap-cuap ini, Ibu pengen naik mimbar dulu.

Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

Para pembaca yang kami sayangi… Itu tadi sepatah dua patah kata pengantar curhat kami. Kalau ada sumur di ladang, bolehlah kita menumpang mandi. Kalau curhat kami teramat panjang, bolehkah kami mendongeng lagi?

Para penilai yang kami hormati… Itu tadi prolog curhat kami. Mohon jangan dinilai dulu. Kami belum sampai pada inti cerita. Insya’Allah kami akan mendongeng lagi di forum ini, sepotong demi sepotong, apabila mendapat lampu hijau dari kalian. Potong bebek angsa, angsa di kuali. Potong dongeng skarang, lanjutnya lain kali.

Salam kenal,
Pelangi

Hari Ke-2: Pengecekan

Makin cakep paras mukamu, Nak. Meski kau masih tersembunyi di rahim Ibu, wajahmu dapat Ibu ‘lihat’ dengan ‘mata batin’.

Naaah… Duduk manis gitu kan enak. Jangan kau biarin api ngebakar jenggotmu, Nak! Kalo kau main bakar di dalam rahim Ibu, siapa yang repot?

Kau nggak mau buruk rupa cermin dibelah, kan? Menyalah-nyalahkan orang lain, padahal diri sendirilah yang bersalah? Andai gini tabiatmu, hhiiihh… Pasti deh si cermin ini Ibu pinjemin sepasang kaki kuda dan sepasang kaki zebra. Dia tentu ngacir duluan sebelum kau deketin. :P

Untungnya, paras mukamu masih mulus. Tiada sehelai pun jenggotmu yang terbakar. Kepolosanmu… subhaanallaah…

Semangat Ibu buat ngedongengin kamu, Nak, jadi menggelegak. Bener nih, mau Ibu dongengin lagi? Nggak ngantuk Ibu bacain teks?

Niiih. Ada sajian teh manis, eh… teks manis dari saudara kita. Difenko namanya. Katanya, “ada banyak kemunkaran yang sudah dianggap benar dan biasa sebagai bagian dari pacaran”.

Kau belum percaya, Nak? Lom tau? Kaciaaan deh lu… Makanya, jangan minta didongengin melulu! Kalo emang udah melek-huruf, jangan bergantung lagi ama dongeng dari Ibu. Mulut Ibu kan cuma satu. Sementara, matamu ada dua, telingamu dua pula.

Dapat kau liat ”n kau denger dengan mata dan telingamu sendiri fenomena dan problematika remaja Islam. Umpamanya, yang didiskusiin saudara-saudara kita di berbagai forum, MyQuran misalnya. Selain itu, kamu pun bisa baca kitab sendiri, baca buku sendiri, baca koran sendiri, baca majalah sendiri…

Ups! Ibu lupa, Nak, matamu masih tertutup. Lain ama para pembaca. Dengan mata terbuka, mereka mampu bersikap kritis. Bisa dengan cerdas dan cermat, mereka baca buku ini dan aneka bacaan lainnya…

Umpamanya, menjelang Valentine’’s Day tahun ini (2005), sebuah majalah remaja “main cocok-cocokan pasangan beken”. Konon, mereka dapat menguji, sedalam apa sih cinta si seleb ama si pacar. Caranya, beberapa pertanyaan diajuin, lalu masing-masing ngasih jawaban di tempat terpisah and sama sekali nggak boleh nyontek. Nih, salah satu tanya-jawab singkat yang Ibu baca, hasil interviu terhadap pasangan berinisial M dan Y:

First kiss?
M: Habis jadian, di mobil.
Y: 20 Juni, di mobil.

Haaah?! Sama-sama nyebutin “first kiss di mobil” gitu itu tergolong cinta yang mendalam???

Eh… Itu belum seberapa, Nak. Masih ada yang lebih ngagetin Ibu. Sampe jantung Ibu nyaris copot. Gini…

Ada sebuah buku populer untuk remaja. Isinya, kiat-kiat & kisah-kisah tentang ”indahnya” menjalin cinta. Di dalamnya ada satu cerpen dan satu puisi yang ngungkapin ”indahnya” ciuman pertama. Lalu, ada pula esai singkat dari si penulis buku. Dengan persuasif, ia sodorin kiat-kiat tuk ngedapetin ”indahnya” ciuman pertama. Salah satunya… (pegang erat-erat jantungmu, jangan sampai copot), si penulis menganjurkan: tak usah menunggu sinyal persetujuan dari si dia, tapi “langsung saja mengecupnya”!

Masya”Allaah…. Bacaan ”panduan pacaran” aja seberani itu. Pantesan, sebagian ”public figure” sering bangga mamerin gaya pacaran mereka yang lebih nekat. Salah satunya, “Awalnya gue cuma dry kiss aja (cium pipi), terus ….” Maaf, Ibu sensor aja, ya. Kamu nggak perlu tau rinciannya. Nggak ada gunanya. Pokoknya, akhirnya dia bersenggama alias intercourse penuh ama pacarnya.

Ngebaca hal-hal gituan, Nak, Ibu jadi khawatir banget. Ibu ngerasa was-was. Apa jadinya kalo para remaja terkecoh ama ”keindahan” kayak gitu? Ibu cemas, jangan-jangan mereka suka langsung mereguk ‘’secangkir cappuccino” yang tersaji di depan hidung tanpa ngecek dulu. Siapa tahu, ada ”kecoak ato bangkai tikus di dasar cangkir”!

Hiii… Ngeriii! Ternyata, memang ada banyak kemunkaran yang sudah dianggap benar dan biasa sebagai bagian dari pacaran. Padahal, pacaran udah mentradisi di kalangan muda-mudi. Gawat, kan?

Dengan nyaksiin fenomena kemunkaran segawat gitu, Nak, bukan cuma Ibu dan orangtua lainnya yang ngerasa kebat-kebit. Para mubalig dan ulama pun resah.

Udah banyak ludah disemprotin buat khutbah. Sampe mulut dan tenggorokan kering-kerontang, masiiih aja pacaran dijadiin ”tradisi” muda-mudi. Udah berulang kali ayat-ayat Quran dan hadits-hadits Rasul dikerahin. Sampe yang ngucapin bosen sendiri, teteeep aja banyak remaja Islam ”nekat” pacaran.

Tapi, sebagian remaja Islam yang ngelakuin pacaran itu beralasan, “Pacaran kami tanpa kemunkaran. Kalo nggak percaya, tunjukin dong, pada halaman & paragraf mana saja, eh… perilaku pacaran kami berdua manakah yang tergolong kemunkaran besar? Emangnya, cuma orang-orang yang nggak pacaran doang yang boleh menghindari kemunkaran? Apakah hanya karena kami umumkan bahwa kami telah jadian, maka kami harus melakukan kemunkaran? Apakah kami yang berusaha islami ini nggak boleh beda dari mereka yang pacaran secara jahiliyah? So what, gitu loh!”

Ck ck ck… Remaja sekarang kritis-kritis, ya. Mereka nggak bisa digiring begitu aja, bahkan oleh mubalig dan ulama sekalipun. Apalagi oleh tanggapan emosional dari orang yang kurang dikenal. Pasti dianggap angin lalu.

Kalo gitu, Ibu pikir, kekritisan itu sebaiknya kita ‘tiru’. Caranya, mari kita tanggapi akal-sehat mereka secara kritis pula. Salah satunya, Nak, yuk kita nyontek pertanyaan kritis yang diajuin oleh akhi Difenko:

Apa bener, yang tanpa kemunkaran itu masih dapat disebut pacaran?

Untuk sekarang, ayolah kita berfokus dulu pada satu pertanyaan ini, Nak. Singkirkan segala prasangka. Lepaskan segala asumsi, termasuk mengenai ada tidaknya ”pacaran islami”. Jangan sampai kita terperangkap oleh aneka mitos di seputar persoalan ini. Untuk itu, kita harus mengenali medan laga, eh… medan makna istilah ”pacaran”.

Dari situ, Nak, kita bisa bertanya lebih lanjut: Jikalau benar bahwa yang tanpa kemunkaran itu masih dapat disebut pacaran, memadaikah menyebutnya sebagai ”pacaran” belaka? (Tanpa embel-embel tambahan?) Sebaliknya, kalo tanpa kemunkaran itu nggak boleh disebut pacaran, lalu istilah yang bener untuk ”pacaran tanpa kemunkaran” itu apa? (Racapan? Caparan? Ato apa?) Proses mencari tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan inilah inti dongeng Ibu pada curhat ini.

Gimana, Nak? Kok matamu tak berkedip? Kamu kepingin cepet-cepet dibacain teks-teks yang ngejawab persoalan ini? Bagus! Ibu ingat kata-kata yang pernah Ibu postingkan di forum MyQuran:

“Orang yang mau tahu itu lebih beruntung daripada yang nggak mau tahu.”

Tapi, Nak, apa daya… mulut dan tenggorokan Ibu sekarang kering-kerontang. Mau minum… ogah, ah. Abis, lagi puasa sih.

Segini dulu ya, Nak, dongeng Ibu di hari kedua ini. Di hari ketiga mendatang, insya”Allah Ibu mendongeng lagi.

Tapi, kamu juga janji ya, jangan baca kata-kata Ibu secara kilat atau sepintas lalu. Lebih baik, baca berulang kali. Eh… maaf. Ibu lupa lagi. Kamu kan belum bisa baca, Nak. Maksud Ibu, dengerin suara Ibu secara cermat dan akurat. Okay?

Sekarang, seraya nunggu bedug magrib bergema, yuk kita pasang ‘telinga batin’ kita. Yuk kita dengerin ”dongeng” dari pembaca-pembaca yang bersedia menjadi ”orangtua angkat”-mu di berbagai forum….

Hari Ke-3: Penerimaan

Tuuuh… Lihat, Nak! Di forum MyQuran, mas Ruliyanto Pribadi ngedongengin kita. Dia bilang, gaya cerita Ibu di sini mirip seorang saudara kita yang di forum MyQuran menggunakan nama “kita_manusia”.

Ibu jadi agak terhenyak. Kok gitu sih… Nggak nyangka, deh. Apanya yang mirip, ya? Akhi “kita_manusia” itu kan sukanya dakwah melalui khutbah panjang-lebar, diselingi beberapa cerita singkat. Sedangkan Ibu sih, senangnya pake cerita panjang-lebar, diselingi beberapa khutbah singkat. Beda banget, kan?

Sebenarnya, yang Ibu contek tuh Dany Wicaksono. Dia seorang kyai muda, aktivis diskusi di forum MyQuran (dan kemudian juga di milis ac4×3). Ibu terkesan banget ama tutur-katanya. Postingannya, “[prolog] Siapa Takut, Pacaran Islami”, jempolaaaaan. Keren abiiis.

Bayangin! Meski sibuk banget, termasuk rajin berdakwah di forum MyQuran dan milis ac4×3, dia tetap menyempatkan diri menimba ilmu. Dia tak malas memburu kebenaran. Tak terkecuali mengenai ”pacaran yang tanpa kemunkaran”. Bagaimana dia mampu bersikap searif itu, ‘ntar Ibu kasih tahu.

Kelak, Nak, terutama ketika kau jadi pemirsa MyQuran dan/atau milis ac4×3, tapakilah jejak-jejak pandangan mata dan pendengaran telinganya. Teladanilah pola pikirnya. Lalu turutilah sepak terjang kyai muda ini.

Ibu rela, kau jadiin dia ‘guru’ favoritmu. Mau, kan, Ibu dongengin jejak-jejak kearifannya? Gini…

Pada suatu hari, Nak, Kyai Dany resah nyaksiin kampanye ”pacaran islami” di forum MyQuran. Pacaran kan haram, pikirnya, masak ada perilaku haram yang islami.

Ketika diliputi ‘kebingungan’ ini, Nak, Kyai Dany tidak lekas-lekas ”menghunus pedang”. Walau di depan matanya tampak aktivitas ‘penghalalan sesuatu yang haram’, ia nggak ngelontarin kecaman keras, apalagi hujatan yang menyakitkan.

Kyai Dany tampaknya paham, berdakwah itu bukanlah bertempur dengan musuh yang berbeda-pandangan dengannya. Kalau pun ada musuh, kemunkaranlah musuhnya. Karenanya, pusat perhatiannya bukanlah pada bagaimana mematahkan argumentasi ‘musuh’, melainkan bagaimana mengalahkan kemunkaran. Kemunkaranlah yang mesti digempur, bukan si ‘obyek’ dakwah.

Dalam dakwah dengan metode mujadalah (dialog, diskusi), ‘obyek’ dakwah itu sesungguhnya subyek dakwah pula. Kita bukan hanya mendakwahi obyek dakwah, melainkan juga didakwahi. Kita saling mendakwahi dan saling didakwahi.

Mujadalah takkan bisa berhasil jika satu pihak (apalagi kedua pihak) berkeyakinan bahwa pihak lain tidak berhak mendakwahinya. Mungkin dianggapnya, pihak lain itu tidak lebih islami daripada dirinya.

Namun bagi Kyai Dany, Nak, mujadalah = bekerja sama menjunjung tinggi kebenaran. Pihak ”lawan” merupakan rekan diskusi, sesama pencari kebenaran. Si ‘obyek’ dakwah diperlakukan sebagai rekan sesama da’i, sesama penyebar nilai-nilai Islami.

Lebih dari itu, kyai muda ini nggak membusungkan dada. Dia malah merunduk seperti padi. (Itu pertanda ilmunya mendalam. Makin berisi makin merunduk.) Tak jarang dia lebih suka menempatkan diri sebagai ‘obyek’ dakwah ketimbang ‘subyek’ dakwah.

Bila dilihatnya argumentasi pihak ‘lawan’ itu kuat, Kyai Dany menerimanya. Ia tidak merasa kalah, dan memang tidak kalah. Dengan munculnya hujjah yang kuat mengenai ”pacaran yang tanpa kemunkaran”, misalnya, kemunkaranlah yang sesungguhnya kalah.

Begitu juga, ketika hujjahnya tertandingi oleh pihak ”lawan”. Kyai kita ini pun menerimanya dengan lapang dada. Ia tidak suka main tuding. Ia tidak menuduh bahwa pihak ”lawan” curang, membungkus kemunkaran dengan ”kecantikan” kata-kata, dsb. Sikap yang arif, kan?

Sikap arif Kyai Dany tampak pula ketika tak sedikit anggota forum MyQuran, mengandalkan prasangka buruk, ramai-ramai ”membantai” penggagas dan pengusung ”pacaran islami”. Dia tidak ikut-ikutan. Sama sekali ia tidak menyebut bahwa mas Shodiq & mbak Aisha dkk itu orang yang keras kepala, muslim KTP, missionaris Nasrani, antek Yahudi, musuh dalam selimut, aktivis bid”ah yang paling berbahaya, dsb. Ia berprasangka baik.

Ia berprasangka, mungkin perbedaan pandangan antara dirinya dan mas Shodiq & mbak Aisha dkk ini mengenai istilah doang. Nggak lebih. Dari sini, Nak, Kyai Dany rajin melancarkan pertanyaan kritis secara sopan. Berulang-kali ia bertanya-tanya di forum MyQuran. Dengan sabar, sabar, dan sabar.

Namun, Nak, belum jua ia peroleh jawaban yang memuaskan di forum MyQuran. Dalam keadaan begini, sekali lagi ia tunjukkan ke-wicaksono-annya. (Wicaksono = Bijaksana.) Sama sekali ia tidak mendakwa bahwa mas Shodiq & mbak Aisha dkk itu ”pemberontak” yang melancarkan ”perang gerilya”, pengecut, dsb. Ia tetap berprasangka baik. Mungkin mereka sibuk dengan urusan lain atau menghindari debat kusir, pikirnya.

Hebatnya lagi, ia tidak berhenti sampai di situ saja. Kyai Dany memutuskan ‘menimba air di mata air’ atau ‘menimba ilmu di sumber ilmu’.

Kearifan ini, Nak, mengingatkan Ibu pada pesan Buya Hamka, Tasauf Modern, hlm. 93: “Jika terjadi perselisihan [pendapat]…, seorang arif budiman tidak akan mencukupkan langkahnya sehingga itu saja atau menyingkirkan diri. Pertikaian di antara itu menghendaki penyelidikan dan pemeriksaan yang teliti. … Hikmat kebenaran itu laksana berlian, mahal tetapi jauh tersembunyi.”

Dengan kearifan ini, Nak, Kyai Dany bergabung dengan milis ac4×3. (Itu tuh, milisnya mbak Aisha.) Semua tulisan para pendukung ”pacaran islami” di milis ini dia baca dengan lengkap dan secermat-cermatnya. Dibacanya juga buku mas Shodiq, Wahai Penghujat Pacaran Islami. Kyai Dany tampak sungguh-sungguh berusaha mencari tahu apa yang dimaksud dengan ”pacaran islami”.

Hasilnya, Nak, disadarinya bahwa pacaran yang tanpa kemunkaran itu masih dapat disebut pacaran. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang ia baca, pacaran adalah “bercintaan atau berkasih-kasihan dengan kekasih atau teman lain-jenis yang tetap”. Dengan demikian, istilah ”pacaran” itu pada dasarnya bersifat netral, tidak tercela.

Masalahnya, dalam pandangan Kyai Dany, pemakaian istilah ”pacaran” itu sangat problematis. Mungkin banyak sejoli nggak peduli apa kata Kamus. Mereka cuma denger kabar angin, “pacaran itu sunnah yang direstui Nabi”. Lantas, dengan asyiknya mereka getol pacaran. Toh direstui Nabi, pikir mereka. Padahal, konotasi makna ”pacaran” yang ngendon di benak mereka itu lain dari yang dimaksud oleh mbak Aisha dkk. Kalau kemunkaran itu nggak ada, maka, seperti kata akhi Difenko, “akan terasa aneh bahkan sampai muncul kata: Lho, katanya pacar, masa gak mau begituan…”

Atas persoalan itu, Nak, Kyai Dany ngedapetin jawaban kunci: “Bedakan antara ”pacaran” dan ”pacaran islami”.” Si rekan diskusi menegaskan, “Karena mengandung konotasi negatif, istilah ”pacaran” saja tidak memadai. Harus ada tambahan ”islami” atau syar”i atau yang sejenisnya. Pacaran yang direstui Nabi itu yang islami, yang syar”i, yang tanpa kemunkaran.”

Karena itu, Nak, andai pacarmu kelak mengajakmu berbuat munkar, tolaklah dengan tegas! Jika dia protes, “Lho, katanya pacar, masak gak mau begituan,” jangan nyerah ama rayuan mautnya. Jawab aja, “Aku nggak mau pacaran sembarangan. Aku maunya pacaran secara islami, sesuai syari”at, tanpa kemunkaran.”

Jawaban yang jitu, kan? Makanya, sebagai pencinta kebenaran, Kyai Dany tidak membantah. Tapi, Nak, ia tetap bersikap kritis. Ia pikir, istilah ”pacaran” kan mengandung konotasi tercela, kok dicampur ama ”islami” yang terpuji. Kenapa gak pakai istilah taaruf (kenal-mengenali) atau tafahum (pahami-memahami) atau istilah lain yang lebih aman?

Namun, Nak, bukan Dany Wicaksono namanya kalau tidak bijaksana. Dengan arif, kyai kita ini menghargai perbedaan. Tak aneh, diterimanya penjelasan dari pihak pendukung pacaran islami bahwa bagi sebagian remaja Islam, istilah tafahum atau istilah lain yang diambil dari bahasa Arab cenderung berkonotasi negatif. Paling tidak, istilah ini dipandang menyiratkan kekolotan dan kurang membumi.

Bagi mereka, para pendukung pacaran islami itu, istilah ‘pacaran’ (apalagi ditambahi embel-embel ‘islami’) justru mengandung makna positif. Setidak-tidaknya, kesan penghargaan terhadap sifat alamiah remaja lebih menonjol. Tahu yang Ibu maksud? Itu tuuuh… ‘virus merah jambu’.

Tentu saja, mereka nggak ikut-ikutan kaum jahiliyah yang menyamakan ‘bercinta’ dengan ‘berzina’. Kita semua tahu, cinta itu sendiri pada dasarnya berkonotasi positif, jauh dari kemunkaran. Karenanya, ‘bercinta’ itu dapat dikonotasikan secara positif pula.

Namun, Nak, sekali lagi, penerimaan Kyai Dany ini tidak mentah-mentah. Tetaaap aja dia bersikap kritis. Hebatnya, kekritisannya dijalaninya secara arif-bijaksana senantiasa.

Langkah arif-bijaksana apa lagi yang dia tempuh? Ntar ya… Besok Ibu lanjutin dongeng ini. Insya’Allah.

Hari Ke-4: Penyeleksian

Gimana, Nak? Masih mau belajar lagi dari kearifan Kyai Dany yang wicaksono? Baguuus! Gini…

Meskipun menghargai perbedaan dalam mensikapi istilah ‘pacaran’, lagi-lagi secara kritis Kyai Dany bertanya-tanya: Apakah penggunaan istilah ‘pacaran islami’ itu lebih banyak manfaatnya daripada mudaratnya? Tidakkah yang menyalahgunakannya akan lebih banyak ketimbang yang memakainya dengan tepat? Bukankah belum banyak remaja Islam yang secara aktif mengikuti milis ac4×3? Bukankah belum semua remaja Islam membaca dengan utuh buku-buku Aisha Chuang (dan artikel-artikel di pacaranislami.wordpress.com)?

Sikap sekritis itu sebenarnya diperlihatkan pula oleh sebagian penentang ‘pacaran islami’ lainnya. Hanya saja, kebanyakan dari mereka itu berhenti sampai di situ saja. Lain halnya dengan kyai muda kita ini.

Ketika di depannya hadir buku Aisha Chuang, Pacaran Islami? Siapa Takut!, Kyai Dany tidak menyia-nyiakannya. Tidak terlintas di benaknya, “Ah, paling-paling isinya gitu-gitu aja. Ngapain dibaca. Mendingan baca buku lain yang jelas lebih bermanfaat.” Alih-alih, dia memilih berusaha lebih tahu. Rupanya, Nak, Kyai Dany itu tidak sok tahu.

Disamping tidak sok tahu, kyai muda ini juga tidak egois. Karena begitu cintanya kepada para pemirsa MyQuran dan anggota milis ac4×3, ia putuskan membaca buku Pacaran Islami? Siapa Takut!. Ia bermaksud menceritakan hasil pembacaannya terhadap buku itu di dua forum itu. Tahu yang Ibu maksud, kan? Itu tuh, postingan yang berjudul “[prolog] Siapa Takut, Pacaran Islami”.

Di situ, lagi-lagi dia enggak mengecam si penulis buku yang dia khawatirkan bakal menimbulkan penyalahgunaan istilah ”pacaran islami” di kalangan muda-mudi kita. Ia memilih berusaha mengingatkan para pembaca lain agar tidak menyalahgunakan istilah itu. Hebat, kan?

Salah satu cara yang dipakainya, ditunjukkannya sebuah kekurangan pada buku itu. Hebatnya lagi, sebuah kekurangan ini ditemukan dan diperlihatkan oleh Kyai Dany sesudah ia dapati dan tampakkan banyak ‘kecantikan’ pada buku Aisha Chuang itu.

Kenapa dia tahu banyak ‘kecantikan’ buku Aisha itu? Mau Ibu beritahu ‘rahasia’-nya? Sekurang-kurangnya, Nak, ada dua kiat istimewa yang menyebabkan proses membaca pada diri Kyai Dany itu berlangsung dengan begitu efektif.

Pertama, ia lebih menaruh perhatian pada apa yang ditulis daripada siapa yang menulis. Sikap arif ini selaras dengan fatwa Ali bin Abu Thalib, “Lihatlah apa yang dikatakan dan jangan kau lihat siapa yang mengatakan”. Ia belum mengenal siapa sesungguhnya Aisha Chuang, tetapi ini tidak menghalanginya untuk berburu kebenaran melalui tulisan-tulisan si penulis buku.

Mungkin Kyai Dany ngerti, bacaan yang nyantumin rujukan lengkap itu sungguh berharga, bahkan seandainya nama penulisnya nggak disebutin sekalipun. Untuk kepentingan mencari tahu kebenaran, nilainya masih lebih tinggi ketimbang buku karya penulis terkenal yang nggak lengkap nyantumin referensi. (Kenapa lebih berharga? Karena benar-salahnya informasinya bisa segera diperiksa melalui rujukannya. Hadits Rasul, misalnya, bisa dicek sahih-tidaknya. Siapa pun yang mengutip, hadits sahih tetaplah sahih. Sebaliknya, setenar apa pun si pengutip, hadits palsu tetaplah palsu.)

Kedua, ia membaca dengan berniat memetik pelajaran. Kalau bermaksud mencari-cari kesalahan pada buku itu, tentu ia akan banyak menemukannya. (Karya manusia memang mengandung banyak kelemahan, kan? Apalagi bila penilainya sekritis Kyai Dany.) Seandainya ia mencari-cari keburukan buku itu, mustahil ia peroleh banyak ibroh dari situ. Bagaimanapun, hanya orang yang menyimak berbagai pandangan dengan niat memetik yang terbaik sajalah yang tergolong orang-orang yang arif.

Dalam surat-Nya, Allah SWT berpesan:

Orang-orang yang menyimak berbagai perkataan, lalu mengikuti yang terbaik di antaranya, mereka itulah yang mendapat petunjuk Allah dan mereka itulah orang-orang yang arif. (QS az-Zumar [39]: 18)

Begitulah, Nak, gambaran jejak-jejak kearifan Kyai Dany. Emang sih, dalam analisis di atas itu, kejadiannya cuman mengenai mujadalah tentang ‘pacaran yang tanpa kemunkaran’. Tapi, Ibu yakin, pada persoalan lain pun dia cenderung searif itu juga.

Menurut Ibu, jejak langkah kearifannya itu patut dicontoh, bahkan oleh yang berseberangan dengannya sekalipun. Gimana menurut kamu? Apa pun pandangan yang kau anut, aliran mana pun yang kau ikuti, cara-cara yang arif-bijaksana tersebut masih layak kau jadikan teladan, kan?

“Zzz… zzz… zzz….”

Loh? Kok kamu malah mendengkur, Nak? Ya udah, deh. Ibulah yang keliru, bikin dongeng kok ya puanjaaang banget. Kamu nggak salah langkah.

Tidurlah dengan nyenyak, Nak. Nanti, seusai istirahat secukupnya, bangunlah. Ibu menunggu-nunggu kelahiranmu. Kelak, Ibu minta, giliran kamu ngedongengin kita. Mau, kan?

Alhamdulillaah… Makasih atas kesediaanmu, Nak. Mmmuah… mmmuah… mmmuah….

Tanggapan Sang Kyai Muda

Jakarta, 18 Aug 2005 12:32:24

Yang saya hormati, Bunda Pelangi..

Assalamu ‘alaikum wr wb.

Salam kenal Bunda, salam ukhuwah dari saya: Dany Wicaksono, abi dari 1 anak. Dan suami dari seorang istri bersahaja yang mempesona.

Penuh kehati-hatian saya membaca tulisan2 bunda, terutama sekali ketika Bunda bercerita mengenai saya pada dua forum yang saya cintai (MyQuran dan ac4×3). Terangguk-angguk dan bergeleng kepala saya, mencoba mencari alur yang tepat untuk menemukan jawaban: “Darimana bunda mengenali saya sedemikian dekat?”. Bunda begitu ‘tepat’ menganalisa perjalanan saya dari MyQ, menuju ac4×3. Mungkin tidak demikian besar keheranan saya, andai saja, Bunda bukan seorang Newbie yang baru terdaftar di MyQ 7 Agustus lalu. Ditambah lagi, setelah menengok menu member di milis ac4×3, ternyata Bunda adalah anggota baru.

Sampai melewati adzan Isya malam ini, saya belum bisa menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan tersebut. Semoga Bunda Pelangi, masih sempat memberikan penjelasan kepada saya, atas hal luar biasa yang Bunda lakukan, di tengah kesibukan mempersiapkan yang terbaik dalam penantian buah hati tercinta.

Wassalamu ‘alaikum.

hormat saya,
Dany Wicaksono (dalam penantian)

note:
“Ya Allah! Jadikanlah diriku lebih baik dari sangkaan mereka. Janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak-tahuan mereka.”

Jawaban Dewi Pelangi

Assalamu’alaikum, akhi Dany.

Pernah terlintas di benak saya, jangan-jangan “dongeng panjang” saya itu membuat akhi tersinggung. Ternyata, akhi Dany menyambut dengan begitu hangat. Terimakasih. Tentu saja, saya terima salam-ukhuwah akhi dengan senang hati.

Saat menulis “dongeng panjang” itu, saya tidak sedang ‘berperut besar’. Walau sudah beranak dua, ketika itu (dan sampai sekarang pun) saya ingin mengandung lagi, melihat Aisha dan dua adik saya sedang hamil dalam waktu bersamaan. Jangan-jangan saya iri, ya?

Maaf, dongeng saya itu menjadikan akhi penasaran. Sebenarnya, saya bukan orang baru di forum MyQuran atau pun milis ac4×3. Akhi dapat menyebut saya: Mai Chuang. “Dewi Pelangi” itu nama samaran saya. Dengan penyamaran itu, saya berharap para pembaca lebih melihat apa yang saya tulis ketimbang siapa yang menulis. Apalagi, selama ini saya dikenal dekat dengan Aisha Chuang.

Wassalam.

Medio September 2005,
Dewi Pelangi alias Mai Chuang
(saudara seperguruan Aisha Chuang)

Comments are closed.