Assalaamu ‘alaikum, para pembaca.
Pernahkah kalian memimpikan bidadari surgawi? Hayooo, ngaku aja. Pernah, ‘kan? Semua akil-balig pasti pernah (dan masih) mengimpikannya. Tak terkecuali profesor, mahasiswa, guru, pelajar, “kutu buku”, … apalagi remaja yang gaul!
Buat kalian para remaja dan orang dewasa yang masih berjiwa muda, buku Bidadari Profesor ini kami tujukan. Tentu saja, kakek-nenek yang nggak lagi merasa muda boleh pula mengintip bidadari, eh… melongok isi buku ini. Silakan saja menyimak renungan kami di sini. Silakan merenung-renung pula: “Kapan, ya, Tuhan memanggilku menghadap Dia?”
Kala Tuhan Memanggil
Pernah nonton film Finding Forrester? Dari film itu, aku (Shodiq) peroleh sepotong pesan tak terlupakan. Seolah langsung kepadaku Forrester ngomong: “Menulislah—pada saat awal—dengan hati. Setelah itu, perbaiki tulisanmu dengan pikiran. Kunci pertama dalam menulis bukanlah berpikir, melainkan mengungkapkan apa saja yang dirasakan.”
Itukah “pesan terakhir” (sesuai judul “kata pengantar” ini)? Bukan! Itulah saran yang menggerakkan tanganku untuk mulai menulis Kata Pengantar ini dengan ‘emosi’.
Pada suatu hari, dengan penuh ‘emosi’, mataku terpaku di layar milis ac4×3. Hatiku serasa terkapar di situ. Terbelalak kupelototi berita duka dari seorang bunda kita. Seakan tak percaya kutelusuri kata demi kata:
Hik hik hik… Bunda sedih sekali. Semalam sampai tak bisa tidur. Pagi ini pun Bunda masih berlinang airmata. Bunda kehilangan seseorang yang teramat dekat, yang sangat Bunda cintai. Dia sudah Bunda anggap bagai anak kandung.
Kemarin dia dipanggil menghadap Sang Mahakuasa dengan tenang. Dia meninggal dunia satu hari seusai melahirkan seorang anak yang sehat. Kata keluarganya, penyebabnya: sakit komplikasi sewaktu persalinan.
Hik hik hik… Dia masih sempat tersenyum bahagia mendengar tangis pertama anaknya. Tapi dia belum sempat menyusuinya, mengasuhnya, mendidiknya….
Ikhwan-akhwat sekalian… Tahukah kalian siapa dia? Dialah yang selama ini kita kenal sebagai AISHA CHUANG.
Inna lillaahi wa inna ilayhi raaji””uun.
Ya Allah… Terimalah dia di sisi-Mu sesuai amal salehnya. Berilah rahmat-Mu kepada orang-orang yang dia tinggalkan, terutama anaknya….
Ya Allah… Ampunilah hamba yang lemah ini. Hamba sulit mengerti hikmah apa di balik peristiwa ini. Mengapa Kau panggil dia yang selama ini segar dan begitu cemerlang. Mengapa bukan hamba yang tua renta dan tak berguna ini yang Kau panggil? Andai selembar nyawa hamba bisa menggantikan posisinya, hamba rela…
Ya Allaaah… Hik hik hik……
Berita duka itukah pesan terakhir di milis ac4×3? Bukan! Susul-menyusul para anggota milis menyampaikan bela sungkawa.
Persinggahan Sementara
Wahai pembaca! Gimana perasaanmu sesudah diberitahu berita kematian itu?
Biasa-biasa saja? Karena tidak ada pengaruhnya bagimu? Karena menganggap kematian itu fenomena alamiah? Karena belum kenal almarhumah?
Aku mengerti. Populasi umat Islam telah mencapai jumlah satu milyar. Meninggalnya ratusan orang pun mungkin tidak membuat kita merasa kehilangan, apalagi cuman satu orang. Lain dengan zaman dahulu kala, di masa-masa awal perjuangan Muhammad saw.. Ketika itu, jumlah pengikut beliau baru beberapa ratus orang. Lain pula dengan keadaan keluarga kita masing-masing. Jumlahnya beberapa gelintir doang. Walau ‘hanya’ kehilangan satu (dari beberapa gelintir), tentulah pengaruhnya besar.
Aku mengerti. Sekarang era informasi. Setiap hari kita saksikan televisi. Selalu ada berita kematian. Setiap hari kita baca surat kabar. Senantiasa ada peristiwa wafatnya seseorang. Setiap hari kita pasti disodori fakta, sejumlah orang meninggal dunia. Bila diberitakan nyawa orang biasa terenggut dengan cara yang wajar, tiada waktu bagi kita untuk memperhatikan. Hati kita baru tersentuh jika mendengar kabar mayat dipotong-potong. Atau hangus total sampai nyaris tak bisa dikenali gara-gara terbakar. Atau hancur berkeping-keping karena terkena ledakan bom. Atau karena tersapu badai Tsunami. Atau…. Ah, daftar panjang ini tiada ujung.
Aku mengerti. Kematian dengan cara biasa, pada orang biasa yang belum kita kenal, itu fenomena biasa. Sama biasanya dengan kematian semut-semut yang terhanyut dalam aliran air kencing kita di kamar kecil. Sama biasanya dengan mengalirnya air limbah di Selokan Mataram, Jogja, menuju Laut Kidul. Sama biasanya dengan kenaikan harga sembako (sembilan bahan pokok) mendahului ‘penyesuaian’ harga BBM (bahan bakar minyak) …. Ah, daftar yang juga panjang ini tiada ujung pula.
Ataukah engkau pembaca setia tulisan Aisha? Seperti aku dan bunda di atas, kau terperanjat, sedih, merasa kehilangan? Serasa tanggal seluruh gigi, tersengal seluruh nyali?
Kita mengerti. Akhi Arifin, seorang saudara kita yang sedang memperdalam ilmunya di negeri Mesir nun jauh di sana, pun merasakannya. Dengan bersahaja namun penuh makna, di milis ac4×3 ia bercurhat:
Tuhan… ku tak tahu, apa hikmah di balik keputusan-Mu. Dia masih muda begitu. Semangat dakwahnya menggebu-gebu. Sekarang Kau telah panggil.
Ia yang ku kenal: seorang yang tulus dalam prinsip… cinta. Memang ia pencinta sejati, seorang yang rindu akan cinta ibu. Sekarang ia tinggalkan anak yang baru dilahirkannya. Tidak sempat ia berikan cinta keibuannya. Adakah bayi itu menjadi sepertinya?
Mbak Ais… Maafkan aku. Mungkin aku sering menyakiti hatimu, walau kita tidak pernah berjumpa. Aku coba untuk berbeda denganmu, walau sebenarnya aku setuju dengan pemikiranmu. Kan ku ingat setiap katamu…
Tak ada yang bisa aku hantar buatmu. Hanya doa tulusku semoga menghiasi taman indahmu, menjadi penerang setiap sudut ruangannya: semoga seluruh amalmu diperhitungkan Tuhan.
Sekali lagi maafkan aku. Aku tak tahu mau kata apa lagi. Aku begitu sedih. Mulut ini serasa terbungkam. Tangan ini kaku. Mata ini berkaca mengenang masa lalu.
Kau temenku, kau guruku, kau kakakku, kau……
“Cup cup cup,” saudara kita Bintoro Siswayanti melipur lara. “Jangan menangis terlalu lama. Cup cup cup. Jangan menggugat ajal… Masa-nya telah tiba. Aisha Chuang sudah menggenapkan waktunya. Kita pun akan menyusulnya, kembali kepada Kekasih kita.”
Aisha sendiri udah ngingetin kita. Di salah satu bukunya, Ais nulis: “Boleh2 aja sih [kita nangis], asal cuman buat persinggahan sementara. Yang penting, jangan larut dalam kesedihan. Jangan habiskan waktu dan energi untuk berduka. Menangislah secukupnya. Jangan meratap-ratap. Menangis sesenggukan beberapa menit, itu wajar. Menangis meraung-raung, atau cuman tersedu-sedu tapi berjam-jam, berhari-hari… itu keterlaluan.”
Iya, ya… Kalo pipi kita sekarang masih terbasahi air mata, yuk kita usap sampe kering. Lalu kita simak sebiji pertanyaan seorang pembaca: “Setelah kepergian beliau, siapa yaa… yang meneruskan perjuangannya??”
Atas pertanyaan itu, akhi Alif menjawab, seolah ditujukan kepada Aisha: “Tinggallah kami menyambung lidahmu, setelah tanggal kepergianmu. [Harapan kami hanya] satu, semoga kamu dapat surga. Tambah satu, semoga kamu dapat ‘pacaran’ dengan Tuhan-mu….”
Butuh Proses dan Pertumbuhan
Hanya selama tiga atau empat tahun, Aisha Chuang berdakwah secara luas melalui jaringan internet dan media cetak. Namun, arus dakwahnya mengalir deras. Ia telah pergi dengan pengabdian yang membanggakan seperti yang dimaksud Chairil Anwar dengan ungkapan “sekali berarti, sudah itu mati”.
Seorang saudara kita, yang di dunia maya (internet) menamai dirinya ‘Serunting Sakti’, ngungkapin: “Pemikiran dan karya-karyanya yang kontroversial membuat saya (dan banyak orang lain) harus banyak belajar, untuk setuju atau pun mengkritiknya.”
Bé é èl a jé a èr. Belajar. Itulah pusaran dakwahnya. Memang, melalui gebrakannya, sesungguhnya Aisha menyampaikan seruan: iqra’. Artinya: bacalah, belajarlah….
Hasilnya, antara lain, seorang pembaca yang bernama Akbar Trisa berujar: “Saya belajar, cinta itu memberi dan mengerti tanpa harus diberi dan dimengerti. … Saya belajar, tidak ada yang instan atau serba cepat di dunia ini. Semua butuh proses dan pertumbuhan. …”
Selaras dengan proses pembelajaran itu, akhi Nabil mengucap: “Selamat jalan, mbak Ais. Belum lagi saya berterima kasih atas tulisan2 mbak yang telah membuka mata saya, mbak telah berpulang ke pangkuan-Nya. Sebagai gantinya, saya akan terus belajar dan belajar, menyelami ajaran2 dîn kita yang mulia ini. Semoga tiada kesia-siaan atas segala yang mbak lakukan slama ini. Amin.”
Tuntaskan Karya ‘Terakhir’
Dengan izin ahli waris almarhumah Aisha, aku buka harddisk komputernya. Aku melihat-lihat, mencari tahu aktivitas terakhir apa yang dilakukannya dengan komputernya.
Rupanya ia sedang menghimpun beberapa artikel renungannya untuk direformasi (direvisi besar-besaran). Supaya serasi, koleksi ini hendak dilengkapinya dengan beberapa artikel tambahan sebelum dipublikasikan dalam bentuk buku.
Saat wafatnya, hampir semua artikel yang dia himpun itu belum dia revisi. Baru satu artikel yang sudah selesai dia reformasi, yaitu “Sepenggal Pesan dari Alam Kubur”. Setelah direformasi, judulnya pun berubah menjadi “Pesan Misterius dari Masa Depan”.
Artikel yang telah dia perbarui inikah pesan terakhir almarhumah kepada kita semua? Barangkali iya. Kurasa, almarhumah sudah mendapat firasat ajalnya telah dekat. Kita semua yang ditinggalkan mungkin terperanjat, tapi agaknya almarhumah sendiri tidak terkejut. Dia tampak ikhlas dipanggil menghadap Sang Mahahidup.
Ataukah naskah bukunya yang belum selesai itulah pesan terakhirnya? Bolehjadi iya. Siapa tahu?
Tanpa kusangka sebelumnya, ahli waris almarhumah Aisha meminta aku tuntaskan karya ‘terakhir’-nya itu. Aku pikir-pikir dulu.…
Emang sih, telah beberapa kali aku menulis buku bersama dengannya. Isi dan gaya penulisannya udah aku pahami. Tapi, mampukah aku menulis sebaik dia? Hmmm… jadi malu. Gimana, ya?
Okelah. Aku kerjakan semampuku. Bismillâhi tawakkaltu ‘alallâh…. Dengan mengingat asma Allah, aku bertawakkal kepada-Nya…. Lâ hawla wa lâ quwwata illâ billâh…. Tiada daya dan kekuatan, kecuali dari Allah….
Akhirnya, artikel-artikel Aisha Chuang itu (kecuali artikel nomor dua) aku poles di sana-sini agar selaras dengan tema buku yang dia kehendaki. Untuk melengkapinya, kutambahkan beberapa artikel.
Kumpulan artikel tersebut kami olah sedemikian rupa supaya menjadi terpadu sebagai satu kesatuan yang utuh. Dengan begini, siaplah naskah ini menghimpun rapi beragam renungan yang menggelitik mengenai cara yang cerdas dan indah menuju masa depan sejati. Dengan cara beginilah, bidadari surgawi bukan lagi impian belaka.
13 September 2007,
M Shodiq Mustika