Bidadari Profesor

Naskah Buku *Raihlah Surgamu* (Renungan tentang Cinta dan Kehidupan)

Tujuh Ciri “Sok Tahu”

Assalaamu ‘alaikum, pembaca! Pa kabar? Masih inget ‘kain kafan’?

Mungkin judul Bab 3, “Siaran dari Atas Kain Kafan”, ngingetin kamu ama kisah-kisah aneh tapi ‘nyata’ yang udah sering disiarin. Itu tuuuh… cerita-cerita serem kayak “Ribuan Semut Merah Mengerubungi Muka dan Dada Jenazah”.

Tapi, jangan salah paham, ya! Jangan samakan curhatku dengan dongeng-dongeng misteri itu. Meski enggak 100% nentang, aku kurang sreg kalo siaran ‘religius’ yang slalu berbau mistik itu diprioritaskan.

Kurasa, gencarnya siaran berbau mistik telah berlebihan. Aku khawatir, tumpullah otak kita karenanya. Gara-gara keseringan nerima gambaran yang nggak rasional, menukiklah daya-kritis kita menuju titik terendah.

Akibatnya, jangan-jangan kita jadi gampang bersangka buruk. Setiap kali kita jumpai ‘keanehan’ pada peristiwa matinya seseorang yang kita kenal, misalnya, segeralah kita sibuk menghubung-hubungkan ‘fakta’. Tanpa dasar yang kuat, tanpa bukti yang sah, kita simpulkan bahwa dosa anu yang dia lakukan semasa hidupnya menyebabkan dia mati secara begitu. Emangnya, kita siapa? Malaikat pencatat dosa? Bukan!

Akibat berikutnya, jangan-jangan kita simpulkan bahwa kita beruntung karena tidak (atau belum) ‘bernasib memalukan’ kayak gitu. Ini gegabah sekali. Emangnya, kita siapa? Malaikat yang bersih dari dosa? Bukan!

Kepada kita yang bukan malaikat ini, Allah SWT berfirman:

“… maka janganlah kau anggap diri kamu suci; Dia lebih tahu siapa yang bertaqwa.” (QS an-Najm [53]: 32)

“… dan janganlah berjalan di muka bumi dengan congkak.” (QS Luqman [31]: 18)

Makanya, ketimbang membusungkan dada, mencari-cari dosa orang lain, ayo kita selidiki lebih teliti kekurangan diri sendiri. Jangan-jangan, karena telah jadi ‘guru besar’ (alias ‘profesor’) walau masih jadi murid kecil, kita jadi sok tahu. Na’uudzu billaah min dzaalik.

Alkisah, semua nabi mendapati penentangan dari kaumnya masing-masing terhadap dakwahnya. Konon, ketika ditentang itu, tentu beliau-beliau dianggap sok tahu oleh para penentang. (Lihat http://qky.c-f-h.com/index.php?m=200502.)

Aku jadi mikir2. Siapa sih yang sesungguhnya sok tahu? Para nabi itu ataukah para penentang mereka? Kau tentu tahu jawabannya, saudaraku. Tapi, bukan ini inti curhatku.

Aku mikir2 lagi. Sok tahu itu apaan sih? Inilah inti curhatku kali ini. Kau mungkin tahu jawabannya, saudaraku. Apa sih? Kasih tau, dong!

Terus terang, aku belum tau makna ‘sok tahu’ yang sebenarnya. Menurut kabar angin, sok tahu itu pada dasarnya adalah merasa sudah cukup berpengetahuan, padahal sebenarnya kurang tahu. Masalahnya, orang yang sok tahu biasanya tidak menyadarinya. Lantas, bagaimana kita tahu bahwa tau-tau… ternyata kita telah sok tahu?

Lagi2 aku mikir lagi. Oh ya… Pangkal tolak pengetahuan kita kan seruan iqra’ yang termuat di surat al-‘Alaq. Ya udah deh. Surat dari Allah ini aja yang kuselami. Siapa tau dapet ilham dari situ.

Alhamdulillaah… betul juga rupanya. Meski tak tahu pasti makna sebenarnya, aku bisa ngenali ciri-ciri sok tahu. Semakin dalam kuselami surat al-‘Alaq, semakin banyak ciri-ciri yang melintas di benakku. Jumlahnya udah nyampai puluhan. Sekarang, haruskah kudalami lagi agar kuperoleh ratusan atau bahkan ribuan ciri?

Enggak, ah! Kalo nyari ilmu berlebihan, kapan kesempatan buat ngamalin èn nyiarin? Puluhan ciri pun udah lumayan. Tlah tampak gambaran yang cukup jelas tentang tabiat sok tahu.

Maukah kau kuberitahu puluhan ciri yang aku dapetin itu? Hmmm… Tujuh aja, ya. Supaya bisa lebih selektif. Hanya ciri-ciri yang kupandang paling penting yang aku tuliskan untukmu.

Emang, aku sengaja nulis dikit-dikit. Ngapain banyak-banyak? Andai nulis sepanjang jalan kenangan, aku takut bakal kekurangan kesempatan buat ngamalin èn nyiarin pengetahuanku sebaik-baiknya. Singkatnya, berikut ini ciri-ciri sok tahu.

1) Enggan Membaca

Barangkali tanpa kau sadari, saudaraku, sering kau dengar bisikan dari lubuk hati: “Bacalah!” (Siapa tau, itu dari malaikat atau dari jin muslim yang baik hati.) Kalau sadar mendengar seruan itu, apa tanggapanmu? Samakah dengan jawaban Rasulullah Saw.?

Ketika diseru malaikat Jibril, “Bacalah!”, Rasulullah Saw. menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Lalu malaikat Jibril menyampaikan lima ayat pertama yang memotivasi beliau untuk optimis akan kemampuan beliau dalam membaca.

Dengan optimisme itulah beliau kemudian tidak enggan membaca. Sikap ini beda banget ama orang sok tahu yang pesimis akan kemampuannya.

Sebelum berusaha semaksimal mungkin, orang sok tahu itu lebih dulu berdalih, “Ngapain baca-baca teori? Mahamin aja sulitnya minta ampun. Yang penting prakteknya ””kan?” Padahal, udah pasti cukupkah ilmu yang ada pada kita saat ini buat petunjuk amal yang berpahala surga?

Ingat aja, Allah sang pemilik surga itu Maha Pemurah! Ia ajarkan kepada kita apa saja yang tidak kita ketahui. So, pede aja, lagi! (Tapi, jangan terlalu pede, ya!)

Udah rajin baca buku? Bagus. Tapi, perdalamlah pemahamanmu. Jangan cuman ngelafalin huruf-hurufnya. Pelajarilah terus kandungan ilmu di dalamnya.

Udah punya STTB (Surat Tanda Tamat Belajar)? Walaaah… Kalo males baca2, pengetahuan kita bakal menguap bagai kamper. Semula wangi, lama2… lenyap tanpa tanda.

Kekurangan waktu dan uang buat baca buku? Ah… masak sih?

Kalo gak sempat baca-baca, kenapa nonton televisi berjam-jam tiap hari? Kalo nganggap harga buku mahal, kenapa nggak ke perpustakaan?

Hayooo… alasan apa lagi? Apakah bila dibandingkan dengan saat Rasulullah Saw. diseru malaikat Jibril, “Bacalah!”, sekarang kita kekurangan bahan bacaan?

2) Enggan Menulis

Pada zaman sekarang, kau tahu, balita pun udah mulai mampu nulis. Hebat, kan?

Perhatikan! Justru karena merasa kurang tahu, anak-anak suka banget corat-coret. Di buku, di tanah, di dinding, di mana-mana. Padahal, daya hafal mereka masih amat kuat. Tapi, dengan corat-coretlah mereka jadi pinter dan makin pinter.

Sayangnya, kita malah sering sok hafal. Seolah-olah, otak kita adalah almari baja yang isinya takkan hilang. Padahal, sifat lupa merupakan bagian dari sifat manusia. Semakin bertambah umur, semakin pelupalah diri kita.

Karena itu, saudaraku, corat-coretilah buku milikmu yang sedang kaubaca! Umpamanya, garis bawahilah kata-kata yang kauanggap penting untuk kauamalkan. Akan lebih baik, tulislah di kertas tersendiri ilmu yang kaudapat dari pembacaanmu, termasuk di dalamnya komentarmu sendiri. Ingat, Allah telah mengajarkan penggunaan pena kepada manusia!

Menggunakan pena itu sulit? Menulis itu menyusahkan?

Bener sih, kalo nulis buat orang lain, kita perlu ketrampilan tersendiri. Tapi, bila nulis buat diri sendiri, bukankah kita gak bakal kesulitan nulis ”’’sesuka hati””? Apa susahnya nulis satu-dua kalimat setiap hari di buku harian? Apa musykilnya corat-coret di selembar kertas kecil?

“Buat apa corat-coret di selembar kertas kecil?” sergah seseorang yang sok tahu.

Buat apa??? Jangan sepelein, dong! Kecil-kecil cabe rawit, tahu! Kalo nggak percaya, petiklah hikmah dari pengalamanku yang aku ceritain di bawah ini.

Beberapa waktu yang lalu, aku diminta oleh seorang dosenku. “Wakililah saya besok malam. Isilah tablig akbar di desa A dalam rangka peringatan Nuzulul Qur’an!”

Hah??? Aku sangat terkejut. Belum punya pengalaman pidato di depan umum sih. Jangankan tablig akbar. Ceramah kecil-kecilan pun belum pernah. Paling banter, aku cuman ‘latihan khutbah’ di depan dosen dan teman-teman kuliahku.

Aneh! Mengapa aku yang diminta? Mengapa bukan mahasiswa lain yang udah terbiasa ngisi majelis taklim di mana-mana? “Karena kamulah yang tahu pemikiran saya. Kalau saya minta tolong orang lain, itu artinya saya digantikan, bukan diwakili,” jawab dosenku itu.
“Tapi caranya bagaimana?” Aku masih setengah protes.

Namun dia tetap mendesakku: “Tulis saja rangkuman singkatmu di selembar kertas kecil. Dengan bekal itu, bicaralah sesukamu.”

Aku tak kuasa menolak. Pada hari-H, jam-J, naiklah aku ke mimbar dengan jantung berdegup tak beraturan. Bismillaah…

Ternyata, lain ama yang aku takutin, lancar-lancar aja aku bicara. Seolah tlah biasa pidato di depan ribuan massa. Sesekali dengan selingan humor, ceramahku mereka simak dengan antusias. Selama sekitar satu jam, tiada tampak kejenuhan pada diri mereka. Setiap kali aku merasa kehabisan bahan, kulirik sebentar rangkumanku di selembar kertas kecil yang dianjurkan dosenku. Dengan begitu, no problem.

Dengan tulisan di selembar kertas kecil itu, sukseslah aku mewakili dosenku. Begitu turun dari mimbar, seorang temanku ‘menodong’-ku. “Selamat! Khutbahmu lebih bagus ketimbang dosen kita. Minggu depan, kamu ngisi pengajian di majelis taklimku, ya! Ceramahlah seperti tadi.”

“Ya. Insya’Allah.” Aku terima perimintaannya tanpa pikir panjang. Toh majelis taklimnya kecil. Hadirinnya kira-kira 50 orang doang. Apa sulitnya? “Pede aja, lagi!” batinku.

Pada waktu yang ditentuin, tampillah aku. Kali ini nggak berbekal kertas kecil. Sebetulnya, dosenku dah ngingetin aku agar bawa rangkuman itu lagi. Tapi aku remehin. Aku kan udah hafal isinya. Apalagi, yang kuhadapi cuma tablig kecil. Bahkan lebih kecil daripada forum diskusi di kampusku.

Tapi ternyata, aku salah besar. Tanpa rangkuman di selembar kertas, aku mati kutu! Bicaraku tersendat-sendat, terbata-bata. Persis seperti balita yang baru belajar ngaji. A ba ta tsa….

Dakwahku saat itu gagal total. Aku jadi malu banget. Terutama sama temenku yang ngundang aku itu. Tiap kali jumpa dia, rasa malu itu masih selalu mendera hatiku.

3) Suka Menyimpulkan Tanpa Dasar Yang Kuat

Rasa malu yang mendera kalbu lantaran sok tahu pernah pula dialami oleh seorang shahabat Nabi Saw., Usamah bin Zaid namanya. Tanpa bukti yang sah, tanpa dasar yang kuat, ia mengambil kesimpulan terburu-buru, mengenai islam-tidaknya seseorang, hingga berakibat fatal.

Dalam sebuah hadits shahih Bukhari-Muslim diriwayatkan, Usamah bin Zaid membunuh seorang lawan di medan perang sesudah si musuh mengucap kalimat syahadat. Oleh Rasulullah Saw., tindakan ini beliau pertanyakan: “Hai Usamah! Kau bunuhkah dia setelah ia ucapkan laa ilaaha illallaah?” Jawab Usamah: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya ia hanya bermaksud menyelamatkan diri.” Tapi beliau bertanya lagi: “Kau bunuhkah dia setelah ia ucapkan laa ilaaha illallaah?” Kemudian beliau mengulang-ulang pertanyaan ini, sehingga Usamah sangat ingin seandainya baru hari itu dia masuk Islam.

Dalam riwayat lain dijelaskan, Rasulullah Saw. bersabda kepada Usamah: “Sudahkah kau belah dadanya [dan melihat isi hatinya] sampai kau tahu apakah ia mengucap [syahadat] itu karena takut ataukah tidak?”

Dari sabda beliau itu, kita bisa memetik hikmah. Diantaranya, bukti yang sah atau dasar yang kuat untuk pengambilan kesimpulan adalah penyelidikan yang mendalam secermat-cermatnya.

Tanpa kecermatan pendalaman, siap-siaplah kita terjerumus menuju watak tercela yang berupa sok tahu. Lebih tercela lagi bila penyimpulan tanpa bukti yang sah itu mengatasnamakan Islam atau mencatut nama Allah dan rasul-Nya.

Sayangnya, orang yang sok tahu itu suka membagi-bagikan ‘pengetahuan’-nya dengan kata-kata: “Menurut Islam begini…. Allah dan rasul-Nya sudah jelas melarang begitu….” dan sebagainya. Padahal, yang dia ungkapkan itu hanyalah pemahamannya terhadap ayat Allah dan sunnah rasul-Nya.

Jadi, bila kita sudah tidak enggan lagi menulis, berhati-hatilah untuk tidak sok tahu dengan mengatasnamakan Allah dan rasul-Nya. Sebab, “Celakalah orang yang menulis kitab dengan tangan mereka sendiri kemudian mereka katakan bahwa buatan tangan mereka sendiri itu dari Allah.” (al Baqarah [2]: 79) Selain itu, Rasul-Nya pun bersabda: “Barangsiapa sengaja berbohong tentang [sesuatu yang diucapkan atau dilakukan oleh] diriku, maka hendaklah ia bersiap-siap memasuki tempatnya di neraka.” (Lihat Yusuf Qardhawi, Bagaimana Memahami Hadis Nabi.)

4) Suka Berdebat Tanpa Pertimbangan Matang

Sekarang, sobat, siap2lah nyimak sebuah cerita lagi. Judulnya: “Bayangan di Cermin”. Mo baca, kan? Siiip… Dongeng lama ini diceritain oleh Letmiros dan dikutip oleh Ismail Marahimin di buku Menulis Secara Populer (1994), hlm. 118-119:

Di sebuah pulau terpencil, jauh di tengah lautan, tinggallah sepasang suami istri dengan rukun dan damai, tidak pernah mengalami persengketaan. Namun pada suatu senja, ketika sang suami kembali dari laut, ia menemukan sepotong cermin tergeletak di pantai. Diambilnya cermin itu, dan alangkah heran hatinya melihat bayangan manusia di dalamnya. Inilah agaknya ayahku yang meninggal beberapa bulan yang lalu, pikirnya.

Cepat-cepat dia pulang ke rumah. Cermin itu dibungkusnya lalu disimpannya di bawah bantal. Hal ini tidaklah diceritakannya kepada istrinya.

Keesokan harinya, ketika istrinya membersihkan tempat tidur, dia menemukan bungkusan itu. Alangkah kagetnya dia setelah membukanya, dan menemukan ada seorang wanita di dalam benda yang dibungkus dengan rapi itu.

Suamiku sudah berkhianat, pikirnya. Dulu dia berjanji akan setia sampai mati. Rupanya sewaktu ke laut, dia mengambil kesempatan mencari wanita lain.

Ketika suaminya pulang dari laut senja hari, dia tidak menyambutnya dengan senyum seperti biasanya, tetapi dengan omelan. “Dulu kamu mengatakan sayalah satu-satunya wanita di dalam hidupmu. Kamu berjanji setia sampai mati, tetapi sekarang kamu punya wanita simpanan,” tuduhnya.

Suaminya kaget. Dia tidak mengerti apa maksud istrinya. “Lha, ada apa ini? Mengapa kamu bilang saya punya wanita simpanan?” tanyanya.

“Ini! Lihatlah!” teriak sang istri sambil menyerahkan cermin itu kepada suaminya.

Sang suami melihat ke dalam cermin, kemudian berkata, “Lihatlah baik-baik, ini bayangan mendiang ayahku.”

“Ayahmu?” teriak istrinya sambil merebut kembali cermin itu. Dia kembali melihat ke dalamnya, dan kembali terlihat bayangan wanita. “Bohong! Ini wanita!” teriaknya.…

Peratiin, sobat! Dua belah pihak sama2 enggan cari kelemahan argumentasi diri-sendiri. Masing2 ngotot: “Aku berhak berbicara, kamu wajib mendengarkan. Hak kami menetapkan, kewajiban kalian mengikuti kami. Pendapat kami benar semuanya, pendapat kalian banyak salahnya.”

Peratiin, sobat! Dua belah pihak sama2 enggak nyadari adanya perbedaan sudut pandang. Dengan begini, terjadilah debat kusir. “Yang haq adalah haq, yang bathil adalah bathil,” kata hati mereka masing2 dengan penempatan yang keliru.

Akibatnya, tak terlihat adanya jalan tengah. Padahal, jika dua pihak yang berdebat bersedia memadukan dua sudut pandang (point of view) mereka, maka mungkin saja mereka akan lebih mendekati kebenaran. Contohnya, dalam lanjutan dongeng tadi dikisahkan:

Dengan sabar sang suami datang mendekat, sambil berkata. “Mari kita lihat bersama, dan kita buktikan bayangan siapa yang ada di dalam benda ajaib itu.”
Namun, alangkah bertambah kagetnya mereka ketika melihat sekarang ada dua bayangan di dalam cermin itu, seorang laki-laki dan seorang wanita.…

Sampai di sini, dongeng tersebut belum rampung. Akhirnya gimana? Silakan para pembaca ngelanjutin sendiri sesuai dayapikir dan pertimbangan masing-masing.

5) Mengandalkan Keluasan Pengetahuan

Usai ngebacain dongeng menarik tadi, sobat, kini aku mo nyeritain pembacaanku terhadap suatu artikel ‘menarik’ yang pernah dimuat di sebuah koran daerah.

Penulis artikel tersebut seorang ‘pakar’, pengurus sebuah organisasi Islam setempat. Dia jebolan pesantren-pesantren ini-itu, ngaji dari kyai-kyai ini-itu. Disebutnya ini-itu satu-persatu. Dia pun nulis, ia punya ratusan kitab tafsir.

Kira-kira setengah bagian pertama dari artikelnya dia habisin buat nyeritain ‘kehebatannya’ itu. Sedangkan setengah bagian terakhir diisinya dengan kutipan fatwa ulama-ulama ini-itu, yang menyatakan sesatnya sebuah ‘jamaah’.

Anehnya, sama sekali tidak ia kemukakan hujjah atau alasan yang melandasi fatwa itu. Ia hanya menghimpun pendapat. (Aku jadi berpikiran, apakah kebenaran sejati itu sama dengan pemilu yang bisa ditebak hasilnya dengan jajak pendapat? Apakah aturan penulisan artikel opini sama dengan aturan penulisan berita?) Padahal, ulama-ulama yang dia rujuk itu udah nerangin hujjah mereka di kitab mereka masing-masing.

Aku khawatir, si penulis artikel itu tipe orang yang kewalahan bila disodori persoalan dengan pertanyaan ‘mengapa’, walau lihai ngisi kotak teka-teki silang tentang ‘apa’ dan ‘siapa’. Aku khawatir, dia cuman ngandalin keluasan pengetahuan, bukan kedalaman ilmu. Aku khawatir, sikapnya ini ngejadiin dia sok tahu.

Orang yang sok tahu cenderung pamer betapa banyak ia membaca, menulis, mendengar, berceramah, dan sebagainya. Barangkali ia suka pinjam atau beli buku banyak-banyak. Tapi, membaca itu semua secara mendalam, mana sempat? Karenanya, ‘terpaksalah’ membacanya sepintas lalu.

Mungkin dengan gitu, ia ngerasa punya pengetahuan di banyak bidang. Ia nggak pengen jadi profesional yang jempolan di bidang ilmu tertentu saja.

Namun sekarang, selaku penulis pemula, terkadang aku terperanjat saat terjun ke dalam komunitas penulis profesional. Kenapa? Karena, banyak penulis senior menyarankan, penulis itu sebaiknya ‘sedikit tahu’ tentang banyak hal. Dengan kata lain, bagi mereka, keluasan pengetahuan lebih penting ketimbang kedalaman ilmu.

Menurutku sih, saran mereka itu mungkin cocok bagi wartawan dan penulis fiksi, tapi tidak tepat bagi penulis buku keagamaan non-fiksi yang ‘ilmiah’ seperti aku. Andai kuikuti saran itu, aku takut diriku menjadi sok tahu. Ataukah justru sekaranglah aku sok tahu karena berani membantah para profesional senior itu?

6) Mengandalkan Gelar dan Ijazah

Dalam buku Understanding Fundamentalism, antropolog Richard Antoun ngelaporin sebuah fenomena sok tahu yang cukup menarik. Peristiwanya sudah lama terjadi di luar negeri, tapi masih relevan buat kita.

Pada tahun 1959 di sebuah desa di Jordania, Antoun melakukan penelitian etnografik. Ditelitinya kehidupan sehari-hari Luqman, sang mubalig desa.

Luqman punya perpustakaan bagus. Banyak sekali buku agama di dalamnya. Nasihat keagamaan yang bijaksana sering dia sampaikan. Belakangan, ia diangkat menjadi pegawai pencatat nikah di Kantor Urusan Agama (KUA) dan pemandu ziarah haji tahunan ke Makkah.

Anehnya, Luqman hanya berijazah sekolah dasar (SD)! Posisi itu dicapainya tanpa pendidikan keagamaan formal. Sebagaimana kebanyakan warga di desanya, pengetahuan agama diperolehnya dari para mubalig keliling yang melakukan kunjungan-kunjungan singkat di desa dan kecamatannya.

Namun, ia sering berdialog dengan mubalig-mubalig itu. Di samping itu, ia rajin membaca buku-buku dari perpustakaan miliknya sendiri yang terus berkembang sedikit demi sedikit. Dalam dua metode belajar inilah keunggulan Luqman tampak menonjol di lingkungannya.

Pada tahun 1986, Antoun kembali melakukan penelitian di lokasi yang sama. Didapatinya, sudah ada banyak mubalig profesional di kawasan ini. Sebelumnya, pada tahun 1959, mubalig di kecamatan tempat tinggal Luqman sedikit sekali.

Hampir semua mubalig profesional itu lulusan dari perguruan tinggi dakwah (program D2 dan S1) yang mulai didirikan oleh pemerintah pusat pada akhir 1970-an. Dari pemerintah, mereka terima gaji yang berlainan, tergantung pada tingkat pendidikan mereka.

Di KUA (tingkat kecamatan), mereka bertemu seminggu sekali. Dalam pertemuan ini, mereka diskusikan buku-buku agama yang berkenaan dengan Islam dan misi dakwah mereka. Luqman ialah seorang di antara mereka. Ia sudah diangkat menjadi mubalig dengan kedudukan sebagai pegawai pencatat nikah.

Pada suatu hari dalam pertemuan rutin itu, Kepala KUA menyampaikan sebuah rencana. Ia hendak mengangkat seorang asisten untuk mengawasi pemilihan petugas-petugas masjid eselon rendah, semisal muadzin. Lalu dikatakannya, Luqmanlah calon yang paling tepat.

Di antara para peserta rapat itu, tak seorang pun yang menyatakan keberatan. Maka diputuskanlah, Luqman diangkat sebagai asisten.

Namun belakangan, sewaktu Luqman tidak hadir pada pertemuan rutin berikutnya, beberapa mubalig menyatakan keberatan. Dengan keras, mereka kecam keputusan pada rapat terdahulu itu.

Alasan mereka, Luqman tidak mempunyai gelar. Ia bukan alumni perguruan tinggi, bahkan tidak berpendidikan keagamaan sama sekali. Ia hanya lulusan SD. Karena itu, mereka menilai, “Pengetahuannya lebih terbelakang dan lebih rendah daripada pengetahuan kami.”

Mendengar penilaian tersebut, Kepala KUA marah. Ia tampak jengkel. Namun dengan halus, di depan mereka ia sampaikan sindiran: “Memang, tidak seperti kita, Luqman tidak berpendidikan formal. Tapi, ilmunya hasil belajar sendiri setingkat dengan Master [program pascasarjana S2].” Maksudnya, ilmu Luqman lebih unggul daripada pendidikan mereka.

Begitulah, sobat, gambaran dari laporan Antoun tentang sok tahunya orang-orang yang mengandalkan gelar dan ijazah. Dengan begitu, tuntas sudah kukemukakan kepadamu tujuh ciri sok tahu. Nanti di curhat nomor delapan mendatang, kita sampai pada analisis yang lebih mendalam terhadap suatu kasus sok tahu yang ‘biasa’ terjadi dalam kehidupan kita.

Eh, sori. Artikel kali ini belum tuntas. Baru enam ciri sok tahu yang kupaparkan padamu. Ciri ketujuh belum kugambarkan.

Mau baca gambaran ciri yang ketujuh? Mau baca penggalan drama satu babak berlatar tanya-jawab suatu pengajian? Oke. Di bawah ini, tanpa komentar lagi, kunukilkan tulisan Emha Ainun Nadjib, “Maha Satpam”, yang termuat di buku Slilit Sang Kiai (1991), hlm. 34-38.

7) Menempatkan Diri sebagai ‘Maha Satpam’

Tanya jawab pengajian itu menjadi hangat. Tak disangka tak dinyana, anak muda berpeci yang lehernya berkalung sajadah itu mendadak meningkatkan nada suaranya.

“Saya sangat kecewa dan memprotes keras mengapa Bapak bersikap lunak kepada orang-orang yang datang ke kuburan untuk minta angka-angka buntutan!” Ia menuding-nuding. “Itu jelas syirik. Saya sebagai warga organisasi Islam yang sejak kelahirannya memang bermaksud memberantas segala takhayul, bid””ah, khurafat, dan syirik, akan terus memberantas gejala-gejala semacam itu dalam masyarakat kita sampai titik darah penghabisan!”

Bapak ustadz terkesima.

Isi pemikiran pemuda itu tidak aneh, meskipun bukan tidak menggelisahkan. Namun “semangat juang”-nya ini! Apakah ia baru saja membaca sajak Chairil Anwar “Aku” atau “Persetujuan dengan Bung Karno” sehingga voltase darahnya meninggi? Tapi marilah bersyukur. Ini yang namanya sukses pewarisan nilai dan semangat perjuangan dari generasi yang satu ke generasi yang lain. Proporsi di mana dan untuk soal macam apa semangat itu mesti diterapkan, adalah soal kedua.

“Adik manis, maafkanlah kalau saya memang khilaf.” Bapak ustadz berkata dengan lembut. “Tapi saya berharap sesungguhnya aspirasi kita tidak terlampau berbeda. Saya juga tidak bermaksud menularkan kebiasaan orang-orang tua untuk bersifat terlalu dingin terhadap gejala-gejala. Tetapi, nyuwun sewu, saya melihat ada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Pernyataan Anda tadi ibarat memasukkan sambal ke dalam es dawet….”

Para jamaah tertawa, meskipun pasti mereka belum mengerti maksudnya.

“Syirik ya syirik. Tapi, orang masuk kuburan kan macam-macam maunya. Ada yang mau mencuri tengkorak, ada yang sembunyi dari tagihan rentenir, ada yang sekadar menyepi karena pusing bertengkar terus dengan istrinya yang selalu meminta barang-barang seperti yang dibeli tetangganya. … Apakah buang-jenuh di kuburan itu syirik?”

“Bukan itu maksud saya!” teriak sang pemuda. “Saya berbicara tentang orang yang minta-minta di kuburan.”

“Baiklah,” lanjut bapak ustadz. “Syirik itu letaknya di hati dan sikap jiwa, tidak di kuburan atau di kantor pemerintah. Sebaiknya kita jangan gemampang. Jangan terlalu memudahkan persoalan dan gampang menuduh orang. Saya terharu Anda bersedia memerangi syirik sampai titik darah penghabisan. Namun, saya juga prihatin menyaksikan Anda bersikap begitu sombong kepada orang miskin….”

“Apa maksud Bapak?” sang pemuda memotong.

“Bikinlah proposal untuk minta biaya meneliti siapa saja yang sebenarnya suka mendatangi kuburan, terutama yang menyangkut tingkat perekonomian mereka. … Saya berani jamin, 90% pelanggan kuburan adalah orang-orang yang kehidupan ekonominya kepepet. Orang seperti anda ini saya perhitungkan tidak memerlukan kuburan karena wesel dari orang-tua cukup lancar. Di samping itu, syukurilah posisi sosial Anda. Anda termasuk di antara sedikit anak-anak rakyat yang beruntung, memiliki peluang ekonomi untuk bisa bersekolah sampai perguruan tinggi. Karena Anda sekolah sampai perguruan tinggi, maka Anda menjadi pandai dan mampu mengelola kehidupan secara lebih rasional. Harapan Anda untuk menjadi pelanggan kuburan termasuk amat kecil. Anda akan menang bersaing meniti karier melawan para tamatan sekolah menengah, para DO atau apalagi para non-sekolah. ….”

Seperti air bah kata-kata bapak ustadz kita meluncur. ….

“Dengan demikian, Anda bisa selamat dari budaya kuburan sampai akhir hayat. Hal-hal semacam itu tidak bisa dilakukan oleh orang-orang miskin yang hendak Anda berantas syiriknya itu. Mereka tak mampu membuat proposal, takut kepada Pak Camat dan Babinsa, karena bagi mereka lebih mengerikan dibandingkan dengan hantu-hantu kuburan. Satu-satunya kesanggupan revolusioner yang masih tersisa pada orang kecil yang melarat adalah minta harapan secara gratis ke kuburan.”

Suasana pengajian menjadi semakin senyap.

“Bapak ini ngomong apa?” potong sang pemuda lagi. ….

“Anda begitu bangga menjadi satpam kehidupan orang lain. Bahkan Anda tampak bermaksud menjadi maha satpam yang memberantas syirik sampai titik darah yang terakhir. Tetapi Anda menodongkan laras senjata Anda ke tubuh semut-semut yang terancam oleh badai api sehingga menyingkir ke kuburan sepi. Itu karena pengetahuan Anda tak pernah dicuci kecuali oleh ulama-ulama [sok tahu] yang memonopoli kompetisi pemikiran keagamaan…. Anda marah kenapa Christine Hakim tidak pakai jilbab padahal ia muslimah, tetapi telinga Anda tuli terhadap kasus penggusuran, terhadap proses pembodohan, terhadap ketidak-adilan sosial yang luas. Anda tidak belajar tahu apa saja soal-soal yang kualitasnya wajib…. Anda merepotkan diri mengurusi sunah-sunah dan tidak acuh terhadap kasus-kasus yang wajib respon sifatnya….”

Ciri-Ciri Orang Yang “Sok Tahu”

  1. enggan membaca; (Kalo males baca2, pengetahuan kita bakal menguap bagai kamper. Semula wangi, lama2… lenyap tanpa tanda.)
  2. enggan menulis; (Justru karena merasa kurang tahu, anak-anak suka banget corat-coret. Dengan corat-coretlah mereka jadi pinter dan makin pinter.)
  3. suka menyimpulkan tanpa dasar yang kuat; (Dasar yang kuat untuk pengambilan kesimpulan adalah penyelidikan yang mendalam secermat-cermatnya.)
  4. suka berdebat tanpa pertimbangan matang; (Yang lebih mendekati kebenaran adalah yang menghargai perbedaan sudut pandang.)
  5. mengandalkan keluasan pengetahuan; (Orang yang sok tahu cenderung pamer betapa banyak ia membaca. Padahal, pembacaaanya tidak secara mendalam, tetapi hanya sepintas lalu.)
  6. mengandalkan gelar dan ijazah; (Gelar dan ijazah bukanlah penentu kedalaman pengetahuan. Yang lebih menentukan ialah efektivitas proses belajar.)
  7. menempatkan diri sebagai ‘Maha Satpam’. (Jangan terlalu memudahkan persoalan dan gampang menuduh orang. Pahami dulu mengapa mereka begitu.)

Comments are closed.