Bidadari Profesor

Naskah Buku *Raihlah Surgamu* (Renungan tentang Cinta dan Kehidupan)

Surat Cinta Ketigabelas

Assalâmu ‘alaikum, adikku…

Alhamdu lillâh, kita bisa bersilatur-rahim lagi via surat. Dah berapa purnama, ya, kita nggak tatap-muka, adu-mata, adu-senyum? Nggak kehitung, deh.

Kau masih ingat padaku, ‘kan? Ini aku, kakakmu, Aisha Chuang.

Kau kangen padaku, nggak? Tak apalah kalau kau lupakan jejak-jejak telapak kakiku. Mungkin memang sebaiknya begitu. Toh ada banyak orang yang lebih berhak kau rindui. Yang penting, kau tetap ingat pada jejak-jejak ‘Telapak Kaki’-Nya. Entah itu di setiap sepoi angin yang kau hirup dengan hidung mancungmu, atau pun di setiap desah nafas yang kau tiup dari mulut mungilmu.

Kenapa ya, kok aku nulis surat cinta lagi? Hmm… Apakah aku kangen lagi padamu?

Pasti, dong! Nggak usah ditanyain lagi. Bayangin! Di zaman SMS dan eMail sekarang ini, aku masih setia ngetik, ngeprint, dan masukin print-out ke amplop, hanya untuk dirimu. Lalu aku bersepeda-ria sejauh beberapa kilometer ke kantor pos tiap bulan. Men sana in corpore sano. Dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Hihihi… (Ada untungnya juga, ya, minimnya fasilitas akses internet di daerahmu.)

Dengan segumpal rindu begitu, Dik, kulayangkan impian melambung jauh ke masa depan. Sampai ke Hari Kemudian. Nggak cuman ngebayangin kerut-merut wajah kita pada 20-30 tahun mendatang. (Berapa tahun lagi, ya, sisa umur kita?) Malah, semalam, lagi-lagi kulihat kau menari balet di taman surga. Sebagai bidadari molek, tentu saja. Duhai betapa gemulainya…

Dengan sebingkah impian begitu, Dik, kutulis surat terbuka ini. Harapanku, smoga elok pula curhatku padamu. (Âmîn.)

Surat-Surat Spesial di Bibir Mungilmu

Adikku… Untuk ke-13 kalinya, surbung (surat bersambung) kakakmu nyembul di sela tumpukan kertas-kertasmu. Nyelip di antara buku, kitab, majalah, tabloid, koran, dan seabrek kliping-klipingmu. Aku nggak kaget bila risalahku ini kau tempatkan di rak nomor 13 dan mendapat giliran baca yang ke-13 pula. Lumayanlah. Ketimbang dibaca kilat sekali doang, lalu diobral kiloan, dijadikan pembungkus kacang goreng, kemudian dionggokkan di Terminal Pembuangan Sampah. (Kira-kira, buku-cetak yang memuat surat terbuka ini nasibnya gimana, ya?)

Aku ngerti, pesan-pesanku yang asal cuap kayak gini nggak pantas kau istimewakan. Surat ini hanya berisi renungan dari seorang kakak. Kakak pun kakak angkat. Angkat pun nggak tinggi. Cuman setinggi rerumputan di lapangan sepakbola. Nggak lebih. Jadinya, ya gitu deh.

O ya… mumpung inget, aku mo tanya. Bacaan apa sih yang tertata paling rapi di rak nomor satumu sekarang? Bolehkah kuintip? Dikit aja?

Dik… aku nggak usah ngintip, deh. Aku kuatir kau ngerasa privasimu terganggu, lalu kau jadi males bersaudara denganku. Risiko ini terlalu berat…

Aku begitu sayang padamu. Setiap naskah bukuku, sebelum kuserahkan kepada penerbit, selalu kusampaikan isinya padamu dalam bentuk surat lebih dahulu. Aku ingin kamulah orang pertama yang membaca pesan-pesanku, paling rajin mengamalkan hikmah-hikmah yang tersurat dan tersirat di dalamnya. Aku ingin kamulah orang pertama yang masuk surga, mencium harumnya, menikmati kebahagiaan abadi di dalamnya. Mau, ””kan?

Dan bila kau lihat, di [surga] sana kenikmatan dan Kerajaan yang besar akan kaulihat.
Mereka [para penghuni surga] berbusana sutera hijau nan lembut dan brokat nan tebal; dan mereka berhiaskan gelang perak; dan Tuhan menyediakan bagi mereka minuman anggur, murni dan suci.
“Sungguh, inilah balasan bagi kamu [yang sabar dan tabah]; dan sungguh, segala usahamu diterima dan diakui.”
(QS al-Insân [76]: 20-22)

“Seorang ibu yang sabar dan tabah akan masuk surga dan bebas memilih masuk dari pintu mana,” begitu katamu yang kau tujukan kepada mbakmu. Tentu, kata-kata indahmu ini selalu tersimpan di hatiku.

Benar, Dik. Kulihat dari sini, tampak jelas terhampar luas sebidang taman surga di bawah telapak kakimu. Bolehkah aku ngintip dari dekat? Dikit aja?

Just kidding. Ngapain ngintip telapak kaki segala? ‘Ntar dicatat sebagai perbuatan dosa oleh malaikat pencatat amal, celaka duabelaslah diriku.

Eh, ketimbang ngintip dari dekat, aku doaian aja, ya… biarpun dari jauh! Semoga, kesabaran dan ketabahanmu dalam menjalani berbagai ujian dari-Nya membuahkan kenikmatan yang tiada tara.

Moga-moga, tiap kali kau ngerasa gembira, kau noleh ke surat-surat dari-Nya. Semoga, tiap kali kau ngerasa sedih, kau berpaling ke bacaan yang sama. Mudah-mudahan, entah suka entah duka kaurasa, selalu kaubaca surat-surat spesialmu itu dengan lidah basahmu, bibir mungilmu, dan hati beningmu. Yach, semoga dalam tidurmu pun kau tetap sering bermimpi ‘surat-menyurat’ dengan Dia, Sang Pemilik Surga. Aamiiin….

Eh, kalimat-kalimat indah yang kau muliakan di deretan terdepan rak nomor satu itu masih surat-surat-Nya, ‘kan? Bukan rajutan kata-kataku atau pun kata-kata si dia, ‘kan? Surat-surat-Nya itu tidak hanya kau pajang, tapi sering kau baca, ‘kan? Bukan sekedar kaulafalkan dengan bibir, melainkan juga kau kaji dengan akal sehat dan kau hayati dengan hati sanubari, ‘kan? Tidak kau kaji dan kau hayati saja, tapi juga kau amalkan, bukan?

Ups… Beginilah kakakmu, Dik. Udah bawaan sejak lahir ‘kali, suka nanya-nanya. Usil, ya?

Enggak lah… Dengan nanya-nanya gitu, aku bukan mo nginterogasi kamu, loh! Buat apa? Untuk menipu diri bahwa aku lebih baik, lebih alim, lebih segala-galanya, daripada kamu? Agar aku tak takut lagi bila sewaktu-waktu Allah meminta kembali nyawa yang Dia titipkan di tubuhku? Tak cemas bila kelak, di Hari Kemudian, Dia minta pertanggungjawabanku atas amanah-Nya ini?

Ah… aku tak yaqin api neraka jahanam pasti takkan menjilat kulit, kuku, dan rambutku. Emangnya aku siapa? Nabi bukan, malaikat pun bukan.

Kita sadar, Dik, kita berdua bukanlah malaikat Raqib dan Atid yang merekam segala tindak-tanduk manusia, juga putih-hitam hati kita… Siksa kubur pun belum tentu bisa kita hindari. Kita bukan malaikat Munkar dan Nakir yang cermat banget memeriksa mayit di ‘malam pertama’ alam kubur manusia.

Uji Taqwa Ni Ye…

Astaghfirullaah… Inget ‘malam pertama’ alam kubur ngebikin aku bergidik. Hiii… Bukan takut ama segala macam hantu, yang kata orang sama dengan syetan. Bukan ngeri ngikutin acara TV “Uji Nyali”, “Penampakan”, dsb. Bukan penasaran gimana rasanya ngadepin makhluk halus di lokasi perkampungan kaum demit. Berani aja.

“Bener berani?” (Entah siapa yang tanya gini. Pembaca buku ini, ‘kali, ya?)

Iya, dong. Masak sih, kita lebih takut ama iblis ketimbang ama Tuhan? Emang sih, aku males nonton tayangan “Uji Nyali” dan yang semacamnya. Apalagi jadi pesertanya.

Tidakkah itu uji-ujian belaka? Kalo uji beneran, mestinya kita ‘kan datang sendirian. Di malam buta. Diam-diam. Tanpa kawalan sebatalyon kru TV dan paranormal.

Ketimbang uji-ujian belaka, uji beneran, yuk! Meski nggak masuk tivi, ayo kita ikuti program ‘tandingan’ bertajuk “Uji Taqwa”. Buat nguji seberapa takut kita kepada Allah.

“Trus, di mana tempatnya? Kapan pelaksanaannya? Isi acaranya apa? Untuk kriterianya, orang yang taqwa atau segan terhadap Allah itu yang bagaimana?” (Kayaknya, kaulah yang tanya-tanya gini.)

Dengan tanya-tanya gitu, kau mau nguji aku, ya? Uji apa? Uji taqwa ni ye… Hehehe…

Eh, ujian serius kok ketawa-ketiwi sendiri. Keterlaluan. Emangnya gak ada yang tau? Pembaca aja tau, apalagi… Oh, jangan-jangan…

Ya, jangan-jangan… segala perilaku kita sekarang, detik demi detik… sedang diteropong. Melalui hidden camera ciptaan Allah yang Dia pasang di sekeliling kita dengan arah segala penjuru, kita diawasi. Di rumah, kampus, kantor, mal, gedung bioskop, kamar kos, atau di mana pun kita berada… Tak terkecuali ketika membaca kata-kata ini.

Apakah kau kira kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu [ujian] sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?
(QS al-Baqarah [2]: 214)

Ya… Tanpa mendaftar, kita telah jadi peserta uji beneran ini. Dengan kata lain, kita selalu menjadi peserta “Uji Taqwa” di dunia ini, walau seringkali tanpa kita sadari! Tenang-tenang aja kita tempel slogan dari ujung rambut ke ujung kaki: Kecil dimanja, muda hura-hura, tua kaya-raya, mati…. jadi hantu? Ya ampuuun…

Ketimbang sama hantu, Dik, aku sih lebih ngeri ngadepin pertanyaan sepasang malaikat penanya di hari pertama kita di alam kubur. Semalam aku sampe sulit tidur, mikirin satu jenis aja pertanyaan mereka. (Belum lagi jenis pertanyaan lain. Aduuuh…)

Ngomong-omong…. Mau, nggak, kuungkapin cerita mengenai ‘malam pertama’ di alam kubur? Bentar lagi deh. (Di bab mendatang, kami sampaikan cerita dari mbak Ais-mu: “Pesan Misterius dari Masa Depan”. Nanti bisa kau saksikan ‘masa depan’ kita di dalamnya. Insya’ Allah.)

Yang mencintaimu karena Allah,
Kakakmu,
Ais

Pesan Kami untuk Para Pembaca

  1. Akan tergolong penghuni surgakah Anda bila sekarang Allah meminta kembali nyawa yang selama ini Dia titipkan di tubuh Anda?
  2. Anda kelak menjadi penghuni surga apabila di dunia ini Anda berhasil melewati berbagai ujian dari Tuhan dengan ketaqwaan Anda.

Comments are closed.