Bidadari Profesor

Naskah Buku *Raihlah Surgamu* (Renungan tentang Cinta dan Kehidupan)

Suara Emas dari Seberang

Alkisah, aku (Ais) telpon ke masku pake hape. Sesudah salamku dijawab, aku langsung nyerocos: “Aku sedang bingung nih. Doakan aku, ya, Mas! Bermohonlah agar Allah menenangkan diriku.”

“Ya ya ya…..” Sahut suara di seberang. Suaranya terdengar merdu menyegarkan, hingga mulai surut rasa takutku. Tak lama kemudian, terdengar lagi kata-kata si dia. “Dik… Are you still there? Ada yang akan kauceritakan sekarang ‘kan?”

Modal Dengkul di Rimba Belantara

Seusai kuungkap kepadanya apa yang barusan kualami, seperti yang kuungkap di curhat terdahulu (“Siaran dari Atas Kain Kafan”), aku curahkan perasaanku. “Aku bener-bener bingung. Aku tak tau harus bagaimana.”

“Emangnya kenapa, Dik? Kulihat tulisan-tulisanmu unik dan menggelitik! Kalimat-kalimatnya santai tapi serius, gampang dicerna tapi mengandung hikmah yang mendalam.”

“Aamiiin. Kalo bener gitu, itu pun berkat dukunganmu, Mas.” Dengan hati mekar penuh mawar merah (berduri nggak ya?), aku berusaha rendah hati.

“Trus, kenapa masih bingung?” tanya dia, minta penjelasanku.

“Aku sungguh ngerasa was-was. Jangan-jangan tulisan-tulisanku disalahpahami dan disalahgunakan. ‘Lidahku’ serasa kelu. Aku ngerasa kurang mampu ngerangkai kata yang tepat agar pembaca benar-benar memahami apa yang kumaksud. Jangan-jangan akan ada pembaca yang berbuat mungkar dengan bersandar pada tulisanku. Terus, di Hari Pengadilan kelak mereka akan nuding aku sebagai biang keladinya. Astaghfirullaah…”

“Jadi, Dik Ais mau diam aja?”

“Enggak lah.”

“Bukannya diam itu emas?”

“Belum tentu, dong. Bila nggak kusiarin pesan-pesan dakwah, aku pun takut dinilai Allah bahwa aku nyembunyiin ilmuku yang nggak seberapa ini. Terus, jangan-jangan di akhirat kelak aku akan dijuluki ‘si kikir’. Na’uudzu billaah min dzaalik…”

Siapa pun menyembunyikan suatu ilmu, sedangkan dengan ilmu itu Allah memberi manfaat kepada manusia dalam urusan agama, maka kelak di hari kiamat ia akan dikekang oleh Allah dengan kekang dari api neraka.
(HR Ibnu Majah)

“Kalo tetep siarin aja, gimana?”

“Siapalah aku ini?” Aku masih merasa gundah dan terus nyerocos. “Apalah dayaku selaku sebutir debu di tengah belantara yang di dalamnya berlaku hukum rimba? Kita tinggal di sebuah negeri yang nyaris semua warganya kerasukan faham materialis. Perekonomiannya dimonopoli kaum penyantap riba, perpolitikannya dirajai sekelompok politisi busuk. Keamanannya dikuasai gerombolan teroris berseragam, masyarakatnya dicekam kesepian dan saling curiga. Kebudayaannya dijejali free-sex dan foya-foya, keberagamaannya diselimuti kebekuan, bla bla bla…. Bagaimana semua itu kuhadapi? Entah telah berapa kali aku gagal dan gagal lagi. Gimana dong?”

“Nggak pa pa,” jawabnya. Lalu dengan nada lembut dan perlahan-lahan dia tambahkan, “Kita tak harus selalu perfeksionis. Toh Tuhan mengamanahi khalifah-Nya sesuai kemampuan kita masing-masing. Yang penting, ikhtiar, ikhtiar, dan ikhtiar. Ntar, lewat tulisan, siarkanlah lamunan, eh, pengalamanmu mengenai kain kafanmu itu. Menarik, tuh. Jadikan satu artikel curhat. Sekalian aja di dalamnya kau tumpahin uneg-unegmu sekarang ini. Udah dapet pahala, hati pun lega jadinya….”

“Bagaimana dengan kecurigaan sebagian saudara kita terhadap siaran dakwah kita yang, dalam pandangan mereka, lain dari yang lain?” tanyaku lagi. Aku belum cukup lega.

“Kita yakin,” ujarnya dengan lemah-lembut namun terasa tegas, “Allah Mahatahu. Sungguh Dia tahu, apakah kita berikhtiar semaksimal mungkin mengemban amanah-Nya atokah cuman ngumbar nafsu cari sensasi, ketenaran, dan kepentingan duniawi lainnya.”

“Tapi,” aku menukas, “masih ada yang ngeganjel nih. Boleh kuminta saran Mas lagi?”

Dengan nada hangat dia ngejawab: ”Buat kau, Dik, tentu aku bersedia dengan senang hati.”

Dengan hangat pula aku coba njelasin: “Gini… Aku tak bermaksud berprasangka buruk. Tapi aku was-was. Jangan-jangan, para pembaca menangkap pesanku secara sepotong-sepotong. Padahal, aku nggak punya apa-apa yang bisa nyatuin potongan-potongan itu. Dengan modal dengkul doang, aku nulis.”

Guru Yang Belajar, Murid Yang Mengajar

“Dengkulmu masih ada?” Mendadak dia bertanya.

“Masih, dong. Lengkap… Nih, ada dua,” jawabku polos dengan seketika. Tapi tiba2 kusadari sesuatu. “Idiiih… genit amat. Ngapain Mas nanya dengkulku? Diprotes pembaca, tau rasa lu!”

“Biarin. Hehehe… Paling-paling, yang kena semprot dari pembaca cuman penulisnya.”

“Kyaaa… Mas curang. Awas! Kapan-kapan kubalas.” Pura-pura aku ancam dia.

“Boleeeh… Itu pertanda kau emang sayang ama diriku. Hehehe… Skor dua-kosong untukku.”

“Skor berapa pun no problem. Yang penting, dalam berlomba-lomba dalam kebaikan, pahala kita sama besarnya,” sahutku gak mau kalah begitu saja.

“Iya deh. Skor itu nggak usah kita ributin. Toh kita bukan sepasang malaikat pencatat amal. Lagian, aku yakin, Allah mencintai orang kaya yang dermawan, tapi Dia lebih cinta kepada fakir miskin yang dermawan. Gitu loh, Dik.”

“Terus, apa hubungannya ama curhatku tadi? Mas nggak ngelantur, ‘kan?”

“Gini… Aku mo negasin, modal dengkul pun udah cukup buat dakwah. Gak usah nunggu kaya. Kau udah berada di jalur yang benar dengan menjadi penulis di kancah dakwah walo masih fakir-miskin.”

“Menghinaaa…” Pura-pura aku marah. (Enak aja dia ngatain aku fakir-miskin. Emangnya, siapa dia? Konglomerat?)

“Enggaaak.” Cepat-cepat dia menyanggah. “Emang sih, dengan menekuni profesi yang penghasilannya kecil dan tak menentu ini, kamu menjadi miskin. Setidak-tidaknya sekarang ini. Selain itu, lenyap sudah peluangmu buat ‘hidup mapan’ dengan kerja kantoran bergaji besar. Tapi, dengan nulis buku, kau bersedekah kepada pembaca. Kalo diitung-itung, nilainya sekurang-kurangnya sama dengan selisih antara gaji besar yang bisa kau dapatkan dan royalti kecil yang kau peroleh. Dengan begini, kamu menjadi fakir-miskin yang dermawan. Seperti Allah, aku pun lebih cinta kepada fakir-miskin yang dermawan,” tuturnya. (Ngerayu ni ye?)

“Aku nggak ngitung-itung berapa besar sedekahku, kalau ada,” tegasku sambil berusaha nyembunyiin mawar-mawar merah yang kian bermekaran di hatiku. (Malu, dong, dirayu gitu. Apalagi nyeritain ke para pembaca. Lagian, belum tentu aku dermawan, kan?) “Aku cuma yakin bahwa dengan keadaanku saat ini, amalku bisa lebih besar dengan nulis buku ketimbang kerja kantoran. But it’s not my point now. Yang ngganjal pikiranku saat ini, gimana kalo para pembaca menangkap pesanku secara sepotong-sepotong. Padahal, aku nggak punya apa-apa yang bisa nyatuin potongan-potongan itu. Seperti kataku tadi, dengan modal dengkul doang, aku nulis.”

“Adikku sayang… Tidakkah kau lihat relevansi firman Tuhan tadi? Bukankah kita semua pernah denger sabda Rasul ‘sampaikan dariku walau hanya satu ayat’?”

“……” Aku terdiam tak mampu ngejawab. Yang kubisa cuma bertanya. Itu pun dalam hati belaka: Begitu bodohkah aku? Ataukah akalku masih membeku lantaran didekap kain kafan tadi?

“Nunggu jawabanmu… kelamaan, Dik. Aku terangin, ya?” pintanya. Lalu tanpa nunggu persetujuanku, dia khutbahi aku: “Lihatlah pentas-pentas lomba da’i cilik yang kini marak lagi. Hampir tak pernah kita saksikan kepala penonton mengangguk-angguk pertanda menangkap suatu pesan dakwah dari si da’i.”

“Masak sih?” (Aku jarang nonton pentas, jadi nggak tau.)

“Lebih sering terjadi, mereka bertepuk-tangan bersorak-sorai mengagumi si kecil yang sedang bergaya bak mubalig dewasa. Tuntunan berubah jadi tontonan. Nyaris tak seorang pun yang berpandangan, si mungil sungguh-sungguh sedang berdakwah. Ataukah malah si cilik itu emang nggak niat dakwah? Cuman niat lomba? Ini sih lebih kebangetan. Padahal, kapan saja, di mana saja, kita bisa berdakwah. Semua orang Islam boleh jadi da’i. Sabda Rasul, ‘Sampaikan dariku walau hanya satu ayat.’ Beliau nggak bersabda sampaikan dariku kalau kau sudah penuhi syarat.”

So what?” (Aku masih telmi, telat mikir.)

“Karena itu, Dik, kepadamu sekarang aku berdakwah: Jadilah guru besar (alias profesor) walau masih jadi murid kecil. Mengajarlah walau masih bodoh. Dengan kata lain, mengajarlah (juga) walau sedang diajar, siarkanlah (juga) walau sedang disiari!”

“Hey!” seruku agak terperanjat. “Mas nyontek tulisanku, ya?” sindirku kepadanya. Aku ingat sepotong nasihatku kepadanya di curhatku yang lain pada beberapa bulan yang lalu. Saat kusampaikan: Jadilah murid kecil walau sudah jadi guru besar! Belajarlah walau sudah pintar! Dengan kata lain, belajarlah (lagi) walau sedang belajar, bacalah (lagi) walau sedang membaca!

“Di situ belum terdengar adzan shubuh?” Dia nggak nanggapi sindiranku, tapi malah balas nyindir aku soal lain.

Aku tersenyum kecut. “Oh, iya. Sampe keasyikan. Maapin ya, shubuh-shubuh udah ngerepotin.”

“Sama-sama nambah amal, bagus lah.”

“Udah, ya?” Aku hendak menyudahi obrolan.

“Oke. Assalaamu ‘alaikum.”

“Wa ‘alaikumus salaam.”

KLIK. Suara klik menutup pembicaraan.

Suara Emas untuk Anda

  1. Apabila Anda menyiarkan ilmu, sedangkan dengan ilmu itu Allah memberi manfaat kepada manusia, maka insya’Allah kelak di Akhirat, selamatlah Anda dari api neraka.
  2. Jadilah guru besar (profesor) walau masih jadi murid kecil; mengajarlah walau belum pintar. Jadilah murid kecil walau sudah jadi guru besar; belajarlah walau sudah pintar.

Comments are closed.