Bidadari Profesor

Naskah Buku *Raihlah Surgamu* (Renungan tentang Cinta dan Kehidupan)

Siaran dari Atas Kain Kafan

“Orang mukmin mana yang paling cerdas?”
Nabi saw. menjawab, “Yang terbanyak mengingat kematian di antara mereka dan yang terbaik persiapannya dalam menghadapi kehidupan sesudahnya.”
(HR Ibnu Majah dan Malik dari Ibnu Umar r.a.)

Kriiing… Kriiing… Kriiing…. Tepat pukul tiga pagi. Jam beker di atas meja berdering tiga kali. Sebelum berbunyi lagi, kuhantam tombol alarmnya dengan tapak tangan. Secara kilat. Bagai ular mematuk tikus. Thug…

Dengan langkah terhuyung, setengah-sadar, aku hendak kembali ke bawah selimut. Mimpi tadi berkesan sekali. Rasanya, aku pengen ngelanjutin mimpi yang barusan terputus.

Tapi… oh ya—kesadaranku mulai pulih—sekarang kan udah jam tiga. Tanggung dong kalo mo tidur lagi. Ya udah, bangun aja, ya!

Bagai Musafir Kehausan

Dengan langkah mantap bak paskibraka berbaris, kutuju kamar kecil. Bergegas kuambil air wudhu. Beberapa menit lagi, kalau kebiasaan selama ini tak berubah, akan sayup-sayup terdengar kumandang adzan. Pertanda panggilan shalat tahajud dari masjid pesantren luar kota, sekitar delapan kilometer di selatan sana…

Entah apa saja yang telah kulakukan dalam beberapa menit barusan, tahu-tahu aku dah berada di kamarku. Duduk bersila di atas sajadah. Eh… Disebut sajadah mungkin kurang tepat. Ini cuma sehelai kain mori putih polos. Boleh dibilang, namanya kain kafan.

Seperti biasanya, aku ngerasa lebih nyaman sujud di atas benang-benang ‘pembungkus-mayat’ ini ketimbang di atas ‘sajadah asli’. Telah jutaan detik si ‘kain kafan’ setia ngelayani aku. Dia sengaja ‘kunaikkan derajatnya’ menjadi sajadah. Maksudku, agar aku senantiasa ingat akan alam baka. Abis, nggak sempat ziarah kubur sih. (Hehehe… sok alim nih. Nyatut istilah ziarah segala. Padahal, sebetulnya, aku belum mampu beli sajadah. Daya beliku baru sebatas lembaran kain tipis itulah.)

Di hamparan kain kafan itu aku duduk bersila. Tepekur. Beberapa rekaat shalat udah aku selesaiin. Sekarang ngapain, ya?

Meluncur pikiranku menuju beberapa curhat yang hendak aku masukkan ke buku yang sedang kususun ini. Aku jadi ingat, aku harus nulis lagi kalo nggak mau ditagih-tagih para pembaca yang kangen ama karya tulisku berikutnya. (Ups, ge-er (gede rasa)…)

Supaya mampu nulis lagi, aku harus belajar dan belajar lagi. Maka segeralah berkobar semangat belajarku. Bagai musafir kehausan yang tiba-tiba jumpai genangan air bersih.

Langsung saja beberapa kitab kurenggut dari rak buku. Ditemani tujuh kitab, kini diriku. Tiga kitab tafsir di depanku, empat kitab hadits di kanan-kiriku. (Hihihi… Sok alim lagi, biar dikira akrab ama kitab-kitab. Padahal, tiga hari tiga malam sampai tadi malam, tak satu pun kitab kusentuh. Qur’an apalagi. Ngelirik pun kagak. Pokoknya, nggak ingat sama sekali deh. Pasalnya, aku keasyikan baca puluhan novel dan komik remaja. Pinjeman, tentu saja. Hehehe…)

Dengan tujuh ‘pisau bedah’ ini kucoba menyusup sekhusyuk-khusyuknya ke dalam Al-Qur’an, masuk sedalam-dalamnya. Dari kegelapan insani menuju cahaya ilahi. (Bisa nggak, ya?)

Erat-Erat Didekap Kain Kafan

Teng… teng… teng… teng…. Jam dinding berdentang empat kali. Setengah jam lagi benang-benang putih akan terlihat di kepekatan. Panggilan shalat shubuh berjamaah akan segera diteriakkan dari 3 loudspeaker raksasa, dari 3 masjid terdekat. Jeritan mereka akan bersaing dengan ranjang empuk dan selimut tebal ribuan pembaca, eh… pendengar. (Antara speaker raksasa dan ranjang empuk, yang menang yang mana, ya?)

Tiba-tiba di tengah-tengah tepekur yang mengasyikkan ini, kudengar pelan sepatah kata: “Siarkanlah!”

Kutengok kanan-kiri dan belakang. Nggak ada kucing, nggak ada tikus, nggak ada orang. Hmmm…. Siapa nih yang bisik-bisik dan ngasih perintah aku? Hantukah? Ibliskah? Jinkah? Malaikatkah? Ataukah lamunan belaka? Aku jadi penasaran.

Perintah “siarkanlah!” itu maksudnya apa sih? Aku ‘kan bukan penyiar. Lagian, buat nyiarin apa aja, dibutuhin orang yang pinter cuap-cuap. Padahal, aku bisanya melongo doang. Kayak sekarang. Mulut menganga lebar, tapi tiada suara yang aku perdengarkan. Apa nggak malu-maluin?

Apa maksudnya, kita diminta nyiarin ayat-ayat Allah yang telah kita dengar, kita baca, kita amati? Kalo iya, aku ‘kan bukan ulama, bukan mubalig. Aku cuman dapat berusaha ‘tuk jadi pendengar yang baik, pembaca yang baik, pengamat yang baik. Aku nggak mampu nyiarin. (Ataukah aku diharap sekedar minjemin buku ato nge-forward e-text Islami tanpa komentar?)

“Siarkanlah!” Lagi-lagi bisikan itu terdengar. Dari mana dan dari siapa, ya?

Woaaa… Sepertinya, ‘sajadah’ putih yang sedang kududuki lah yang berbisik kepadaku! Ngeri, ””””””””kan? Kain kafan kok bisa ngomong. Kayak film kartun Scooby Doo aja. Hiiii….

“A a a kkk ku.. ti ti.. tidak mampu menyiarkan,” sahutku sambil terbata-bata lalu tersengal-sengal. (Masak, gugupan gini diminta ‘nyaingi’ penyiar, protesku dalam hati.)

Kain kafan itu lalu mendekatiku dan mendekapku erat-erat. Akibatnya, aku ngerasa lemes banget. Ngirup oksigen pun sukar banget. Pasti wajahku jadi pucat-pasi bagai korban kasus sadisme perpeloncoan ‘Sekolah Tinggi Calon Pejabat Rendah’. (Eh, wajah mereka itu sebenernya sampe pucat nggak sih? Waktu kuliat tayangannya di layar televisi beberapa pekan yang lalu, ‘putih’nya wajah para korban itu kurang jelas.)

Kini si mori putih itu ngelepasin dekapannya padaku. Ia berbisik lagi:

Orang itu akan didatangi [oleh malaikat] di dalam kuburnya. Ketika ia [yang beriman] didatangi dari sisi kepala, bacaan Al-Qur’annya membelanya. …
(HR Thabrani)

“Wahai pembaca! Buat apa banyak membaca, kalau tiada yang kau siarkan? Lebih baik, siarkanlah surat-surat-Nya! Bacaan-bacaan Al-Qur’an itu, apabila engkau budidayakan, akan menemanimu sekarang di alam dunia, serta kelak di alam kubur dan alam baka. Mereka akan melapangkanmu di saat ‘sempit’, menghangatkanmu di musim ‘dingin’ dan menyejukkanmu di musim ‘panas’. Wahai pembaca! Jangan sia-siakan potensimu! Walau dulu kau tercipta hanya dari segumpal darah, Tuhanmu Maha Pemurah. Walau dulu kau tak bisa berkomunikasi sama sekali selain menangis belaka, kini Tuhanmu telah mengajarkan penggunaan pena. Maka menulislah sekarang! Menulislah di atasku! Ya, di atas sajadahmu ini, kain kafanmu ini.”

Lalu suasana berubah jadi hening… hening sekali. Sunyi yang hening. Tiada bunyi bisikan lagi. Yang ada hanyalah tubuhku yang seolah tak berjiwa. Masih melongo, tepatnya. Entah sampai berapa menit, barulah kesadaranku pulih kembali.

Saat kesadaranku pulih, buru-buru aku bangkit. Terasa benar, aku gemetar di sekujur badan. Aku ngerasa ngeri. Hiii.…

Tanpa pikir panjang, kusambar hapeku. (Mumpung belum kujual buat beli beras pekan depan.) Kemudian kutelpon seseorang yang spesial bagiku. Dia tempat aku curhat segala hal.

Apa isi pembicaraan kita, ntar ya! (Aku ceritain di bab mendatang, “Suara Emas dari Seberang”.)

Walau Hanya Sepatah Kata

Ke tempat semula, aku berbalik sambil senyam-senyum :) (Manis nggak, ya?). Ke situ kuangkut tubuh langsingku. (Ceileee…. padahal kurus kerempeng! Hehe…). Ke kain kafanku, eh, sajadahku, aku kembali.

Seusai shalat subuh dan berdzikir beberapa menit di situ, segera kubuka sebundel arsip. Judulnya: “Siaran di Atas Kain Kafan”. Sekali lagi aku tersenyum. :) Aku ingat, curhat ini pernah kusiarin di internet. (http://kafemuslimah.com/article_detail.php?id=296)

Untuk keperluan siaran yang lebih luas, yaitu dalam bentuk buku, kini kurevisi curhat tersebut menjadi “Siaran dari Atas Kain Kafan”. (Kata ‘di’ kuubah menjadi ‘dari’. Lebih dinamis, kan? Ehm, ehm…)

Walau hanya sepatah kata yang kuucapkan, kutuliskan, dan kusiarkan, semoga para pembaca dapat memetik beribu-ribu manfaat darinya. Aamiin.

Sepatah Kata untuk Anda

  1. Anda adalah orang mukmin yang paling cerdas apabila Anda menggali ilmu-ilmu dari Al-Qur’an bagai musafir kehausan dalam rangka menghadapi Hari Akhir.
  2. Bacaan-bacaan Al-Qur’an itu, apabila Anda kaji dan amalkan, akan menemani Anda sekarang di alam dunia, serta kelak di alam kubur dan Hari Akhir.
  3. Walau hanya sepatah dua patah kata, apalagi bila lebih dari itu, siarkanlah ilmu-ilmu yang Anda gali dari Al-Qur’an.

Comments are closed.