Bidadari Profesor

Naskah Buku *Raihlah Surgamu* (Renungan tentang Cinta dan Kehidupan)

Pesan Misterius dari Masa Depan

Aisha Chuang berpesan:

Kali ini, Dik, kuajak kau bersamaku selami mimpi. Kita rajut impian, kita bangun taman surga, semenjak dini. Mau, kan?

Untuk merajut impian kali ini, cukuplah kita kembangkan artikel “Sepenggal Pesan dari Alam Kubur”. Itu tuuuh… yang pernah kutayangin di internet pada beberapa tahun yang lalu. (Pada saat finishing naskah buku ini, kami dapati bahwa artikel tersebut telah ‘dibajak’ alias dicontek oleh abujeunieb di abujeunieb.blogspot.com. Sebetulnya, artikel tersebut muncul pertama kali di eramuslim.com. Jejaknya bisa kita jumpai di forum.webgaul.com dan dudung.net.)

Sewaktu nyusun naskah-awal artikel itu, aku sengaja menuliskannya sesingkat mungkin. Pertimbanganku, netter biasanya lebih suka yang ringkas-ringkas. (Menatap layar monitor tanpa berkedip itu melelahkan, bukan?) Toh akan ada kesempatan bagi kita untuk mengembangkannya dengan lebih mendalam, dan kemudian diterbitkan dalam bentuk buku cetak.

Alhamdu lillâh, kesempatan yang kutunggu-tunggu itu kini telah tiba. Here it is… Kulakukan perombakan besar-besaran. Tambal-sulam di sana-sini. Judulnya pun aku ubah menjadi “Pesan Misterius dari Masa Depan”.

“Ehm, ehm…. Sebetulnya, mbak Ais mo ngomong apa sih?” Mungkin kau tanya gitu, Dik.

Yeeiiii… judulnya aja pake kata ‘misterius’, tak perlulah kujelasin aku mo ngasih pesan apa. Kalo aku jelasin, nggak misterius lagi, dong! Hehehe…. Pokoknya, terusin aja deh, bacanya! Dijamin tiada jaminan. Hahaha….

‘Malam Pertama’ di Alam Kubur

Entah bagaimana mulainya, pertanyaan pertama meluncur dari mereka dalam mimpiku di malam itu: “Bacaan apa yang paling kausukai, hai manusia yang terbaring sendirian di liang lahat!”

“Al-Qur’an!”

Begitu jawabku, Dik… dengan gaya lugas seolah-olah sedang taaruf dengan si dia yang kutaksir—dulu, ketika aku masih muda belia. Tapi, sesuaikah jawabanku dengan kenyataan?

Sepasang makhluk gaib di alam kubur itu ternyata nggak bakalan dapat kita bohongi. Di ‘kantong baju’ Munkar-Nakir itu tersimpan film video, hasil liputan Raqib-Atid. Isinya: rekaman seluruh aspek kehidupan kita di dunia ini, lahir dan batin. Tiada lagi rahasia hati. Tiada lagi misteri jiwa.

Mulut kita pun tidak lagi bisa kita perintahkan untuk berdusta. Kita hanya bisa bertanya-tanya dalam hati: Demenkah kita akan bacaan trend kemajuan zaman? Berita kriminalitas? Warta olahraga? Gosip? Pornografi?

Jangan-jangan kita terlena oleh segala bacaan duniawi itu dengan tingkat keasyikan yang mengungguli kekhusyukan kita dalam menelaah surat-surat-Nya. Kalau begitu, jangan-jangan jawaban yang akan terlontar dari mulut kita kelak akan sesuai dengan hobi itu, Dik.

Pertanyaan Yang Menohok Ulu Hati

Mengapa aku suka baca Qur’an, tanyaku dalam hati tiba-tiba.

Karena aku mencintainya, jawabku.

Benarkah kamu mencintai Al-Qur’an?” sela sepasang malaikat penanya.

Waduh. Mereka mampu membaca pikiranku. Ternyata memang percuma, kalo aku coba-coba bohong. Trus, gimana dong?

Untuk apa kaubaca surat-surat Tuhan, hai manusia yang hobi baca-baca?” tanya Munkar-Nakir hentikan lamunanku… Wah, makin sukar aja, ya, pertanyaan mereka.
Lalu aku menjawab … hmmm … Sori, Dik. Aku lupa. (Jangan-jangan udah mulai pikun nih.) Yang kuingat sekarang… terngiang lagi kata-kata yang, entah kapan, meluncur dari mulutku begitu saja, polos bagai ocehan balita:

Membaca Qur’an membuatku tenang. Hatiku lapang, tiada beban. Persetan tagihan cicilan utang alias kredit dari para ‘lintah darat’. Persetan tugas kantor yang menumpuk di rumah. Persetan rengekan Penerbit yang tanpa kenal lelah meminta setoran naskah. Persetan omelan pembaca yang pintarnya mengkritik melulu…

Ketimbang ngurusin omelan pembaca yang nggak mau tau gimana perasaanku, mendingan kulirik bunda dan ayah. Muka mereka berdua cerah. Seolah sepasang wajah itu mengucap, “Alhamdu lillaah… anakku shalihah.” Mendengar ini, serta merta aku tersenyum. :)

Kemudian, ketimbang ngurusin rengekan Penerbit yang nggak tau-tau gimana sulitnya kehidupan keluargaku, mendingan kutengok tetangga dan handai-tolan. Lamat-lamat kucerap bisikan mereka, “Ck.. ck.. ck… Aisha hebat, ya. Udah pinter, cantik, alim lagi!” Mendengar ini, aku pun tersenyum lagi. :)

Namun, dua sungging senyum itu :) :) kusimpan di dalam dada. Kutabung demi bunga berbunga. Demi kebaikan dunia dan sekaligus akhirat.

Dalam shalat tahajud di kamar kos, kulantunkan lagi ayat-ayat Tuhan. Seperti kemarin dan kemarinnya kemarin.

Dadaku mengembang. Kepalaku menggelembung. Tubuhku melayang-layang. Aku merasa bagai juara-dunia MTQ. (MTQ = Musabaqah Tilawatil Qur’an, lomba baca Al-Qur’an.) Kian lama, lafalku makin fasih. Denting lidah di mulutku merdu membuai qalbu makhluq-makhluq di sekelilingku, para penyimak suaraku….

“STOP!” Lagi-lagi pasangan Munkar-Nakir menginterupsi kata-kataku. “Itu pertanda kamu mencintai dirimu sendiri. Apa buktinya kau cintai Al-Qur’an?

Aku cuma bisa melongo. Bibirku kelu. Pertanyaan terakhir itu menohok ulu hatiku. Aku ngerasa KO (knock out). Serasa mau roboh, padahal tubuh rapuhku udah terbujur kaku.

Mau apa lagi, coba? Mau baca? Baca lagi? Sampai kapan?

Sedang Baca, Kenapa Tetap Disuruh Baca?

Masih di alam mimpi, aku mulai gundah. Munkar-Nakir tidak lagi memberondong dengan berbagai pertanyaan berat. Tapi kini mereka menyerbuku dengan beragam perintah keras. Suara mereka mulai meninggi, setengah membentak:

“Hai manusia! Kami mau tahu bagaimana engkau membaca Al-Qur’an. Bacalah!”

Dengan rada gemeter aku gerakin lidah dan bibir: “A’ûdzu billâhi minasy syaithânir rajîm. Bismillâhir rahmânir rahîm. Iqra’ ….

Iqra’” sela Munkar-Nakir.

“Lho lho lho… Iqra’ lagi? Bukankah aku sedang membaca Al-Qur’an? Kenapa tetap disuruh baca?” Kucoba menutup-nutupi rasa cemasku, tapi sia-sia belaka. “Ada apa nih? Ngajak bercanda, ya?” Kucoba melancarkan serangan balik, tapi percuma pula.

“Tidak! Bacalah dengan nama-nama Tuhanmu! Pantulkanlah sifat-sifat Tuhanmu selaku wakil-Nya di dunia. Pantulkanlah di setiap degup jantungmu, setiap tetes keringatmu, setiap embus napasmu… usai kaubaca surat-Nya! Kau tahu, Dia itu Sang Pengasih. Lantas, seberapa kasih dirimu kepada makhluk-Nya? Dia itu Sang Penyayang. Tapi, seberapa sayang dirimu kepada makhluk-Nya? Dia itu Sang Kreator; seberapa kreatif engkau mewakili Dia di dunia? …,” tukas Munkar-Nakir mementahkan segala seranganku.

Kreativitas? Itu kan kurikulum berbasis kompetensi, kurikulum tingkat satuan pendidikan atau apalah namanya, batinku. Lagak sok pintarku kumat lagi:

Siapkan ‘pisau bedah’. Siaplah menganalisis kata-kata. Jangan sebut ‘bedah buku’, kalau isinya khotbah melulu… Jangan sekedar menghafal atau melafal. Fokuskanlah perhatian pada penyerapan makna-makna di balik kata-kata, lalu tanggapilah secara aktif dan produktif.

A-ha! Ternyata aku masih hafal materi kuliah Profesor. (Sebetulnya, kami nyontek dari disketnya. Dasar nggak kreatif! Nyontek aja dibanggakan.) Trus, kalo hafal doang tanpa dipahami, tanpa diamalin, apa gunanya, ya?

Kalau Benar-Benar Mencintai, Maka…

Pertanyaan-pertanyaan dari sepasang malaikat penanya itu sulit-sulit, ya! Masya’ Allaah… apa gunanya kita hafal jawaban yang “benar”, contekan dari profesor yang paling jenius sekalipun, kalau mulut kita tak bisa berdusta di alam kubur?

Kyaaa… dapet soal kok ya sulit-sulit. Mati aku! (Loh… kok mati lagi? Di alam barzah, kita udah game-over, ‘kan?)

“Itu tidak sulit,” sanggah sepasang malaikat penanya itu. “Kalau kamu benar-benar mencintai surat-surat Tuhan, maka tiada pertanyaan kami yang musykil kau jawab.”

Ya. Itu masuk-akal, pikirku seraya menundukkan kepala. Menyembunyikan pucat wajah yang memerah. Malu, dong. Aku kan belum ngerti: benar-benar mencintai Al-Qur’an itu gimana sih?

Malu bertanya, sesat di neraka. Kutanyakan aja ah, kepada mereka. Maka kuangkat mukaku. Pasang mata, pasang telinga.

Aku belalakkan bola mata dan lebarkan daun telinga. Tetapi, kini semuanya gelap-pekat dan sunyi-senyap. Tiada apa-apa. Tiada siapa-siapa. Di mana sepasang malaikat penanya itu? Kok nggak kelihatan lagi? Kok nggak kedengaran lagi? Aneh. Apakah mereka mengajakku main petak-umpet? Tak mungkin. Tentu ada alasan serius kenapa mereka menyembunyikan diri, pikirku. Ah, bikin bingung aja.

Dalam kebingunganku, mendadak suara menggelegar sontak menusuk lubang telingaku: “BACALAH! ‘Dan [orang yang taqwa itu ialah] yang bila diingatkan pada ayat-ayat Tuhan tidak lalu terkulai seperti orang-orang tuli dan buta.’ (al-Furqân [25]: 73) Bacalah terus sampai kau benar-benar lulus dari ‘Uji Taqwa’.”

Baiklah! Oke, oke. Di mana pun malaikat menyembunyikan diri, biarlah. Akan kubaca lagi corat-coretku dengan sepenuh gairah, tidak dengan terkulai.

Corat-coret yang mana dulu? Yang ‘ciuman sepenuh gairah’ aja, ya! Tertarik, kan? Nih….

Ciumi Surat-Surat Kekasih Sepenuh Gairah

Tahu tanda-tanda cinta sejati? Pasti. Kaum ABG yang terlanda cinta monyet pun ngerti.

Konon, tanda cinta tuh perhatian banget ama si dia. ‘Bumbata’ kalo emang cinta. Buka mata buka telinga. Segala gerak-geriknya tiada yang luput dari pengamatan kita. Bagai anak-anak yang ndengerin dongeng dari ortu tercinta, kita simak setiap kata-katanya sepenuh gairah. Surat-suratnya kita baca ribuan kali. Sampe lusuh pun masih kita cium-ciumi, bagai mengecup kembang mawar yang sedang merekah.

Astaghfirullaah… Belum pernah aku cium-ciumi surat-surat Tuhan: surat-surat dalam Al-Qur’an. Apalagi dengan sepenuh gairah! Jangankan menciumi, melirik dengan tatapan mesra pun kayaknya tak pernah pula.

Jangan-jangan, sudah lama aku terkulai. Bagai orang tuli dan buta sejak di rahim bunda. Terkulai pula hingga di liang lahat? Gawat.

Hiii… Badanku menggigil. Keringat dingin bercucuran. Aku gugup. Apakah aku ‘mencicipi’ siksa kubur dulu sebelum terpuruk di kerak neraka kelak?

Belum lenyap kegugupanku, bunyi menggeluntur yang menusuk-nusuk lubang telingaku tadi itu kini sudah berubah menjadi angin yang membelai-belai. Bisikannya melirih: “Dengan dibukukan bersama beberapa curhat lainnya, curhat ‘Pesan Misterius dari Masa Depan’ akan dibaca oleh jutaan peserta Uji Taqwa.”

(Aamiiin.) Suara amin bernada syahdu ini bangunkan aku dari mimpi yang aneh. Rupanya, nada syahdu ini keluar dari mulutku sendiri! Mataku pun membuka. Ternyata aku memang belum terbujur di liang kubur.

Aku masih berbaring di atas selembar tikar tipis di kamar kos. Hawa dingin menusuk sekujur tubuh. Di luar kamar, air hujan mengguyur bumi sederas-derasnya. Maka bangkitlah aku menepis hawa dingin, meyongsong kehangatan cahaya Al-Qur’an.

Alhamdu lillaah… Akhirnya, tiada lagi kata-kata yang kudesiskan selain pujian kepada Sang Pencipta dan Pemelihara kehidupan:

Alhamdu lillâhil ladzî ahyânâ ba’da mâ amâtanâ wa ilayhin nusyûr.
Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kita setelah mematikan kita, dan kepada-Nya lah tempat kembali.

Lima Pesan Jelas untuk Anda di Masa Kini

  1. Al-Qur’ankah bacaan yang paling Anda sukai?
  2. Benarkah Anda mencintai Al-Qur’an? Mana buktinya?
  3. Salah satu bukti cinta Anda kepada Al-Qur’an adalah bahwa Anda tidak hanya membacanya di bibir, tetapi juga mencernanya dengan akal dan mengamalkannya dengan segenap sumberdaya yang ada pada diri Anda.
  4. Salah satu bukti cinta Anda kepada Al-Qur’an adalah bahwa ketika Anda membacanya, Anda melakukannya dengan sepenuh gairah.
  5. Salah satu bukti cinta Anda kepada Al-Qur’an adalah bahwa Anda senantiasa menaruh perhatian yang besar kepadanya sampai pada hal-hal yang sekecil-kecilnya.

Comments are closed.