Mengintip Bidadari dengan Cinta

Assalaamu ‘alaikum, Bunda…

Apa kabar? Semoga Bunda senantiasa tenteram bersemayam di ‘Rahim’ Sang Maha Pemurah, sebagaimana dulu aku nyaman berenang-renang di rahimmu. Aamiin.

Seperti biasanya Bunda, ananda mau curhat lagi. Sekarang tentang gemerlap dunia dan kenikmatan surgawi. Begini, Bunda….

Siapa Dimuliakan Tuhan?

Tahun ini, A sudah haji. Sejak tahun lalu, B sudah jadi ulama kondang. Sedangkan C sudah menggondol gelar S3 dari negeri fried-chicken. A, B, dan C itu teman-teman masa kecilku. Mereka sudah punya rumah, sudah punya mobil. Semuanya sudah jadi orang.

Bagaimana dengan diriku? Aku masih menjadi orang hutan. Ke sana-sini cuman bergelantungan dalam bus kota. Beli teve mono 14” pun kreditan. Sewaktu aku tanya beberapa saudaraku (sesama muslim), bisa nggak minjemin duit buat beli beras, khotbah doang yang kudapetin.

Sebagian di antara mereka ngomong, “Makanya introspeksilah! Rejekimu seret mungkin karena dosamu segudang, ibadah dan amal salehmu kurang.”

Mereka mengklaim, terkabulnya doa mereka dalam memohon rizqi itu lantaran mereka rajin shalat malam, puasa senin-kamis, zakat, dan haji. Kata mereka pula, kesuksesan itulah bukti nyata bahwa Allah meridhai cita-cita dan usaha mereka.

Manakah ayat Al-Qur’an atau pun hadits yang membenarkan klaim mereka? Aku tak pernah menjumpainya. Yang kudapati adalah Surat al-Fajr [89] ayat 15-20 yang tampak menyangkal klaim mereka.

Adapun manusia, ketika Tuhan telah mengujinya, memberi kehormatan dan kenikmatan kepadanya, lalu ia berkata, “Tuhanku memuliakanku.”
Namun jika Dia mengujinya, membatasi rezekinya, maka ia berkata, “Tuhanku menghinaku.”
Sekali-kali tidak! Tetapi kamu tidak menghormati anak-anak yatim.
Dan tidak mendorong orang lain memberi makan orang miskin.
Dan kamu melahap harta warisan dengan sangat serakah.
Dan sangat mencintai harta secara berlebihan.

(QS al-Fajr [89]: 15-20)

Benar, Bunda. Kuperhatikan, ada dua orang haji dan seorang calon haji ditanya rahasia kesuksesan mereka dalam berburu rezeki. Dua orang menjawab, “Allah menolongku karena aku selalu berusaha bershalat sebaik-baiknya.” Orang ketiga menambahkan, “Makanya, introspeksilah. Kalau selama ini kamu gagal berkali-kali, lihatlah shalatmu. Sudah bener apa belum?”

Mereka lupa bahwa sebagaimana kaum ””Ad, Fir””aun dan Qarun pun kaya-raya walau kufurnya luar biasa. Mereka pun tak ingat, hampir semua nabi bukanlah orang terkaya di kalangan kaumnya meskipun imannya luar biasa.

Barangkali mereka belum menyimak buku Yusuf Qardhawi, ‘Ibadah fil Islam. Kata beliau, kitab suci kaum Yahudi lah yang menyebut bahwa beramal saleh membuahkan kemakmuran duniawi. Padahal, kita tidak berpegang pada kitab suci kaum Yahudi, bukan?

Barangkali pula mereka belum mendengar kata Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Madarijus Salikin, “Iblis pernah bermohon kepada Allah dan Dia pun memenuhinya.” Padahal, iblis menolak beribadah dan tak mau beramal saleh. Dosanya pun lebih dari segudang.

Jadi, terkabulnya doa orang-orang yang mencintai kekayaan itu BUKAN pertanda mereka dimuliakan dan diridhai Allah.

Benar, Bunda. Aku tidak menganggap tiga orang tersebut Dia muliakan. Sebenarnyalah aku merasa kasihan karena Dia biarkan jiwa mereka selalu gelisah.

Mereka tahu, Allah SWT telah mengajarkan bahwa harta warisan, yang selama ini mereka kuasai, haruslah dibagikan kepada para ahli warisnya. Namun, mereka menguasainya dan tidak mau membagikannya. “Kalau warisan dijual, kasihan orangtua,” dalih mereka. Lalu mereka campurkan harta haram ini dengan harta halal mereka. Padahal, mereka punya penghasilan tetap yang menjadikan mereka pasti selalu berada jauh di atas garis kemiskinan, sedangkan para ahli waris yang tidak mereka beri bagian itu tergolong miskin dan terlilit hutang!

Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian [seorang demi seorang] masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu! Kelak kalian akan mengetahui [akibat perbuatan kalian terhadap kalian sendiri]. Maka janganlah begitu! Kelak kalian akan mengetahui [akibat perbuatan kalian terhadap kalian sendiri]. (QS at-Takatsur [102]: 1-3)

Benar, Bunda. Sebelum mereka masuk kubur pun sudah kulihat akibat perbuatan mereka terhadap diri mereka sendiri. Yang paling tampak gamblang adalah yang tertua. Kini, dia “hidup segan, mati tak mau”.

Sebagian tetangga bertanya-tanya, mengapa Pak X sengsara di hari tua? Bukankah dia menanam kebaikan semata-mata? Aku diam saja. Namun dalam hati aku menjawab: “Memang, dia menanam banyak kebaikan. Akan tetapi, dia mencampurnya dengan kebatilan. Dia menguasai sendiri harta warisan istrinya yang mestinya dibagikan kepada anak-anaknya disamping kepada dia sendiri.”

Memang, di mata masyarakat, menguasai harta peninggalan istri tidaklah tercela. Anaknyalah yang dicap anak durhaka bila meminta bagian dari warisan almarhumah. Tapi hukum-Nya berbeda. Dan Dia Mahaadil.

Bukan Kemiskinan Yang Kucemaskan

Rasulullah saw. bersabda, “…. Demi Allah! Bukan kemiskinan yang aku khawatirkan terhadap kalian. Namun, aku sangat mengkhawatirkan kemewahan hidup dunia seperti yang dinikmati orang-orang sebelum kalian. Kalian berlomba-lomba mendapatkannya seperti mereka berlomba. Kalian akan disesatkan oleh kemewahan itu seperti mereka pun telah disesatkan.”
(HR Bukhari)

Sementara itu, Bunda, saudara-saudaraku yang lainnya nyerocos, “Kenapa nggak cari kerja yang mapan? Males? Kamu memang pemalas yang berdalih idealis. Bla bla bla…”

Sejak ‘bla-bla-bla’ itu, Bunda, tiada lagi saudara di duniaku. Yang ada hanyalah hukum rimba. Tiada tempat bagi yang lemah. Tiada ruang bagi yang kalah. Tiada belas-kasih bagi yang berkeringat-darah. Hikhik.. hik… Haruskah aku pindah ke Aceh lalu tertimpa gempa dan gelombang tsunami, supaya mereka mengirimiku beras sortiran dan pakaian bekas?

Aku memang bukan siapa-siapa, Bunda. Mustahil ada yang menawariku proyek-proyek pembangunan di Aceh, Batam, Kaltim,…. Mustahil ada pejabat, eksekutif, atau pun selebritis yang mengerumuni majelis-majelisku…. Mustahil ada majalah atau tabloid yang menampung tulisan-tulisanku dengan honor sebesar ONH….

Bahkan, tidak ada telinga yang terbuka untuk menyimak erang-tangisku. Mereka semua sibuk, sibuk, sibuk. Entah sibuk apa, seringkali aku tak tahu.

Aku pun sibuk. Ikut lomba mengejar surga. Dunia-akhirat. Mumpung masih sempat.

Aku tidak menolak kekayaan, asalkan mendekatkan kita ke surga. Seperti kaya-rayanya Nabi Sulaiman. Tapi kalau menjauhkan kita dari surga, seperti kaya-rayanya Qarun, soriii. Ogah, ah!

Sayangnya, Bunda, kurasa nggak mudah hidup di zaman sekarang. Lebih sulit mengikuti jejak Sulaiman a.s daripada menggali harta Qarun. Lebih sulit kaya dengan jalan yang 100 persen halal daripada yang 99 persen halal, apalagi yang Nol persen halal.

Maka dari itu, Bunda, untuk sementara, aku mengurung diri di dalam kamar. Menulis buku-buku islami. Mengajak siapa saja berlomba-lomba mengejar surga dan sekaligus mengetuk ‘hati’ Sang Maha Pemurah. Agar Dia mengaruniai aku rizqi lewat buku-bukuku.

Untungnya, Bunda, ada komputer yang menemaniku di dalam kamar. Kendati hanya bertipe AT 386 SX keluaran seperempat abad yang lalu, dan sering ngadat alias hang, toh aku masih dapat berproduksi dengan efisien. Aku masih lebih beruntung daripada Buya Hamka yang tak mengenal MS Office sepanjang karir kepenulisannya.

Untungnya lagi, Bunda, monitor 14” yang ada di depanku saat mengetik ini luar biasa. Meski cuman dwi-warna, dan sama tuanya dengan si AT 386 SX, layarnya… WOW!

Setiap kali kutekan tombol demi tombol, yang terpampang di layar bukanlah kata-kata atau kalimat. Bukan pula paragraf atau pun artikel, apalagi buku. Yang kulihat dengan mata hatiku adalah pemandangan berwarna-warni seindah pelangi!

Kulihat Bidadari di Layar Hitam-Putih

Di layar monitor hitam-putih itu aku melihat engkau, Bunda. Wajah ayumu hidup dan bergerak-gerik di situ. Kulihat pula surga di keseluruhan dirimu, bukan hanya di telapak kakimu.

Kau elus-elus dengan lembut perutmu yang kian lama kian mirip balon ditiup, sementara aku berenang-renang riang di rahimmu. Senyummu mengembang—duhai manis nian—ketika perutmu kutendang-tendang. Masya’ Allaah…

Betapa kucinta padamu, katakanlah kau cinta padaku.
Sematkanlah di hatimu, walau di mana berada.

Kemudian, ketika aku mulai berlari-lari di luar rahimmu, kau melirik ke arahku dengan senyuman termanismu. Itukah kata-kata cintamu padaku yang tak kau ucapkan?

Baiklah, Bunda. I believe in you. Maka aku pun masuk ke layar, bersatu denganmu. Kita bercengkerama di taman bunga beraneka-aroma.

Di layar hitam-putih yang beraneka-aroma ini kutorehkan: basah bibir dari senyum kita, derai air mata dari tangis kita, kecut peluh dari wajahku yang terserap serabut handuk hadiah ultah darimu, terang sinar dari selusin lilin kita di malam kelam, pedas sambal goreng dari hangat tungku bebatuan di tengah hutan tempat kita bercengkerama, manis semangka segar dari hijau kebun kita, lembar demi lembar suratku… surat-surat cintaku padamu.

Kembanglah goyang atas kepala, lipatlah pandan sanggul dipadu.
Kita berdendang bersuka ria, lagulah zapin aduhai sayang rentak melayu.

(Istilah Zapin berasal dari kata “al-zafn” yang berarti langkah kaki. Pengertian ini terlihat dari gerakannya yang banyak bertumpu dan bervariasi pada kaki.) Lalu, ketika aku merentak lebih cepat daripada zapinmu, kausorongkan bibirmu. Oh… Kau mau menciumku lagi, Bunda? Seperti dulu?

Ini keningku, ini pipiku. Ah, pipi yang mulai basah. Maaf. Basah tak mengapa, ya? Aku tak kuasa menahan air mata berlinang mengenang zapin dan rentak Melayumu… Mana punggung tapak tanganmu dan telapak kakimu, Bunda? Aku pengen menciummu lagi. Seperti dulu.

Laksmana raja di laut, bersemayam di bukit batu. Hati siapa tak terpaut, mendengar lagu zapin melayu.

(Zapin berasal dari Hadralmaut di Jazirah Arab. Zapin Arab yang telah beradaptasi dengan kesenian Melayu disebut Zapin Melayu.) Oh, zapin lagi. Rentak Melayu lagi.

Memang sih, dua biji saja kaset punyaku. Satu Siti Nurhaliza, satu Iyeth Bustami. Tapi, aku tak mau menukarnya dengan koleksi ribuan CD, VCD, DVD, biarpun disertai alat pemutarnya sekalipun, apabila menyebabkan hilangnya wajahmu dari duniaku. Begitu pula dengan perangkat komputerku. Aku takkan menggantinya dengan laptop Toshiba tercanggih sekalipun, apabila mengakibatkan lenyapnya cintamu dari hati sanubariku.

Gila? Tidak. Aku bukan Majnun atau pun Laila Canggung. Komputer kuno dan dua biji kaset yang setia menghiburku saat aku melukis wajahmu di monitor itu mengantarku ke pintu surga. Membawaku terbang bersama bidadari. Bersama dirimu, Bunda.

Demi Allah! Andaikan di surga hanya terdapat keselamatan badan, aman dari maut, dari lapar dan haus, dan segala macam musibah, ini sudah cukup alasan bagi kita untuk pindah dari dunia ini… Padahal di surga, penghuninya laksana raja, dengan serba-serbi kenikmatan dan kebahagiaan, mendapatkan segala yang diingini.
(Imam Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin)

Jelas tidak gila, bukan? Surga itu lebih dari segala kesenangan duniawi, bukan?

Aku malah heran memikirkan kita, orang-orang ‘beriman’. Kita percaya adanya surga yang serba nikmat dan selama-lamanya. Tapi, kenapa kita masih gampang tergila-gila oleh ‘kebahagiaan’ yang semu dan sebentar saja? Apalah artinya puluhan tahun di dunia (bergelimang dalam teknologi yang canggih tapi hampa) bila dibandingkan dengan ribuan tahun, jutaan tahun, eh… selama-lamanya di surga (bergelimang dalam istana yang gemerlap dan penuh cinta)?

Gemerlapan jiwa semikanlah cinta.
Smoga kau dan aku akhirnya bersama.
Aku ‘kan menunggu, walaupun seribu tahun lagi.

Sambil menunggu kebersamaan abadi denganmu, Bunda, ijinkanlah aku mengintip bidadari surgawi dari dekat. Surga yang ada di depan mataku setiap saat. Supaya dalam masa penantian ini, aku tidak terpikat oleh rayuan dunia. Ijinkanlah aku mengintip taman cinta di dalam rahimmu dengan mata hatiku. Mana rahimmu, Bunda?

Dekati Surga dengan Cinta

Sekarang longoklah lagi sosok anakmu ini, Bunda! Aku sedang terbang. Surga tempat kau berada, tujuanku. Cinta, bekalku.

Inilah bunga mungil yang dulu kautanam di rahimmu nan sunyi itu. Kini tumbuh semi dan mekar.

Aku bukan lagi bayi yang menetek. Sungguhpun liurku mengucur deras setiap kali membayangkan ke-yurida-an Bunda—‘yurida’ berarti ‘yang paling diinginkan di antara yang diinginkan’—tiada setetes pun susu yang kuharap akan terperah dari payudaramu. Kecantikanmu lebih dari cukup untuk menjadi ilham pelepas dahagaku. Dengan menghirup wanginya bau keringat ketiakmu, alhamdu lillaah… aku dapat minum dari peluhku sendiri!

Oh, Bunda… Aku cinta kau. Aku rindu kau.

Kukenang dikau dengan segenap kebisuanku dan kecerewetanku. Kukenang dikau dalam kebisuan kertas putih dan kecerewetan tinta hitam tulisan-tulisanku.

Inilah koleksi e-mail pendek yang dulu kautanam di rahimmu nan maya itu. Kini berkembang berlembar-lembar, bersurat-surat… Ais bukan lagi kencur cengeng yang membanjiri mail-box-mu.

Walau air mataku berjatuhan bak air terjun Niagara setiap kali membacakan keayuan Bunda, tiada setetes pun tangis yang akan kukirim ke alamat posmu. Handuk kado ultah darimu lebih dari cukup untuk mengisap bulir-bulir kenangan yang mengental di rongga dada. Dengan merasai mesranya kecupan bibirmu yang menjulur dari lubuk kalbumu, alhamdu lillaah… ananda bisa tersenyum di depan Ar-Rahiim, Sang Maha Penyayang.

Ya Rahiim! Inilah setetes air hina yang Kau embusi Ruh Suci-Mu. Inilah segumpal darah yang Kau ajari penggunaan pena, Kau ajari apa-apa yang tak aku ketahui… Kepada-Mu kuhaturkan puja dan puji, hamba-Mu tak lagi membenam dalam rahim Bunda Yurida.

Aku mencabut bunga
Sampai ke akarnya sekalian,
Kubawa ke suatu taman
Dekat rumah nan indah rupa.
Dan kutanam lagi bunga itu
Di tempat nan sunyi;
Kini ia subur tumbuh semi
Dan mekar berbunga selalu.
(Goethe)

Bunda… Aku ingin menjadi engkau, menjadi ibu. Aku berniat mencabut serangkum bunga. Sampai ke akar-akarnya sekalian. Hendak kutanam di rahimku. Hendak kusirami dengan air buah ranum dari lubuk hatiku, agar mekar selalu…

Maka kubuka gerbang kalbu. Agar madu yang kuproduksi di dalamnya menyembur keluar. Hingga memancur hebat dan menghujan lebat, mengguyur kuntum-kuntum mawar.

Bismillaahir rahmaanir rahiim…

Yang merindu cinta Bunda,
Ananda di lorong asmara

Sebagian ‘Air Madu’ Yang Memancur dari Curhat Ini

  1. Kekayaan yang kita peroleh adalah berkah dari bumi dan belum tentu lantaran diridhai Allah.
  2. Jangan-jangan, berlomba-lomba mengejar kekayaan membuat kita tersesat dan menjauh dari kenikmatan sejati.
  3. Marilah kita mengintip ‘bidadari surgawi’ terdekat: sang ibu yang mencintai janin di dalam rahimnya.
  4. Marilah kita mendekati surga sedekat-dekatnya dengan jalan menjadi ‘ibu’ bagi sesama hamba Tuhan: membesarkan mereka dengan penuh kasih-sayang, seolah-olah mereka adalah janin yang hidup di rahim kita.