Assalaamu ‘alaikum, adikku…
Aku bersyukur, kau tak keberatan menjadi profesorku. (Lihat Bab 6.) Telah kau ampuni kesalahanku. Telah kau maklumi kebodohanku. Curhatku kali ini merupakan salah satu ujud rasa syukurku ini.
Omong-omong, masih ingatkah kau akan mimpiku yang berisi “Pesan Misterius dari Masa Depan” (di Bab 2)? Dari mimpi aneh itulah, Dik, bangunlah aku dengan kesan yang mendalam. Sekarang pun masih terngiang jelas, beberapa pesan yang tadinya terlalu misterius.
Dari pengalaman ‘masa depan’ itu, aku berseru kepada diriku sendiri dan siapa pun yang mau menyimak seruanku: Jadilah murid walau sudah jadi guru besar! Belajarlah walau sudah pintar! Dengan kata lain, belajarlah (lagi) walau sedang belajar, bacalah (lagi) walau sedang membaca!
Bagaimana dengan kamu? Kamu sih, tentu sedang membaca.
Bagaimana dengan diriku? Membaca juga, dong… membaca huruf demi huruf yang aku ketikkan.
Bagaimana keadaanku saat mengetik ini? Sudahkah aku pintar? Belum. Dan mungkin takkan pernah pintar. Aku bukan guru, apalagi profesor. Saat ini aku hanyalah seorang pembaca. Sambil mengetik, aku sedang membaca sebuah buku klasik karya Buya Hamka, Tasauf Modern.
Rasa-rasanya, Dik, ada kata-kata Buya yang relevan dengan curhatku sekarang. Aku perlu mempelajarinya lagi saat ini juga. Yang mana, ya? Oh… ini dia. Terpampang di Tasauf Modern, halaman 114:
Qur’an telah tercetak, tidak tertulis dengan tangan lagi. Hadits telah tersiar, segala sunnah [tradisi Nabi] dan masanid [keterangan seluk-beluk jalan periwayatan]-nya tidak berpisah-pisah lagi, dan faham ulama-ulama ikutan yang telah terdahulu, yang beribu banyaknya sudah dapat pula dijadikan suluh benderang dan perbandingan di dalam mencari maksud Qur’an. Tentu lebih mudah orang sekarang memahamkan daripada orang dahulu.
Hah? Lebih mudah? Aku tercengang, Dik. Kok kemudahannya nggak terasa, ya? Perlu dikaji, nih!
Ketika Pengetahuan Melimpah
Hmmm… Mungkin benar, orang sekarang lebih mudah belajar kandungan Al-Qur’an daripada orang dahulu. Gimana enggak? Dulu era agraria, kini abad informasi.
Dulu, di zaman shahabat dan tabi’in, seringkali orang harus berjalan kaki sejauh ratusan kilometer. Dari satu negeri ke negeri lain, mereka melanglang buana demi mendapat hadits Nabi saw. sebanyak satu atau dua saja. Itu pun masih diperlukan pengecekan ke sana-sini untuk memeriksa shahih-tidaknya. Bayangin betapa terjalnya jalan untuk memperoleh ‘sedikit’ ilmu agama ketika itu.
Kini, di zaman komputer dan media massa, paling banter kita cuman perlu naik angkot atau bus kota. Hanya dalam beberapa menit, sampailah kita di toko buku atau perpustakaan. Belum lagi kemudahan yang kita reguk dari internet. Dengan secepat kilat, bisa segera kita peroleh ribuan hadits shahih dan jutaan teks agama, lengkap dengan keterangan rujukannya. Bayangin betapa mulusnya jalan untuk mendapat ‘banyak’ pengetahuan agama.
Mulus? Rasa-rasanya kok enggak. Bayangin aja: Berapa lama waktu yang tersita untuk membaca ribuan hadits shahih dan jutaan teks agama? Berapa banyak sumberdaya yang terbuang untuk menelusuri rujukan-rujukannya? Berapa banyak waktu yang tersedia bagi kita masing-masing untuk melakukan itu semua? Paling banyak, 24 jam per hari, bukan? Nggak cukup, kan?
Bolehjadi, Dik, berlimpahnya pengetahuan itu malah mempersulit pemahaman kita. Jangan-jangan, kita justru makin pusing. Apalagi ketika kita jumpai dua macam pandangan yang saling berlawanan. Belum lagi kalo sama-sama terlihat benar.
Jangankan kita yang awam. Ulama besar pun, yang senantiasa haus akan ilmu dan pengetahuan, bisa saja diliputi kebingungan. Syaikh Bisyri al-Maliki, misalnya.
Dalam buku Dialog Sunnah Syiah dikisahkan, Syaikh Bisyri si ulama Sunni mendapat penjelasan dari seorang pewaris Ahlul Bait (Keluarga Nabi saw.), Sayyid Syarafuddin al-Musawi al-”Amili. Dijelaskan panjang lebar, tiada keharusan berpegang pada mazhab-mazhab Ahlus Sunnah. Yang wajib justru berpegang pada mazhab Syi’ah.
Mungkin lantaran didorong oleh rasa hausnya akan kebenaran, Syaikh Bisyri meminta kepada Sayyid Syarafuddin, “Berikanlah kepada saya tambahan kata-kata mutiara serta hasil pemikiran Anda yang sangat bermutu itu, sebab saya telah menemukan kebijakan dan kearifan di antara uraian-uraian Anda!”
Kemudian sesudah sang pewaris Ahlul Bait itu menggasak paham Ahlus Sunnah habis-habisan, Kiai Bisyri berungkap, “Setelah selesai menekuni apa yang Anda sajikan, dan mendalami dalil-dalil yang Anda kemukakan, benar-benar saya diliputi kebingungan. Saya melihat argumen-argumen Anda mengikat, dalil-dalil yang Anda kemukakan tidak bisa dibantah… [Lalu] sebagai akibat kenyataan ini, jauh dari lubuk hati, saya dengar dua bisikan yang saling berlawanan.”
Nah! Ulama aja diluputi kebingungan. Apalagi kita orang awam. Bingung banget, kan?
Tenaaang… Ada saran jempolan dari Jack Trout, The Power of Simplicity, “Jika Anda menata pikiran, maka Anda akan berpikir lebih jernih.” Dengan kata lain, yang terpenting bukanlah banyaknya pengetahuan. Yang lebih penting, bagaimana merapikan informasi yang menjejali benak kita.
Ibarat kita berkemas-kemas hendak bepergian, tak bisa kita jejalkan pakaian dan barang lain ke dalam koper lalu pergi begitu saja. Tanpa tertata, kita bingung mana yang bisa kita bawa pergi. Tapi, setelah pakaian dan barang lain ini kita tata rapi, leluasalah kita menyeleksi mana yang paling pas untuk kita masukkan ke dalam koper dan kita bawa pergi. Dengan kata lain, sesudah pikiran kita tertata rapi, lebih mudahlah kita susun kesimpulan dan berpikir lebih lanjut.
Namun, repotnya, kita udah terbiasa malas berpikir. Kita cenderung menerima begitu saja penjelasan-penjelasan yang memuaskan rasa ‘dahaga’ kita akan pengetahuan. Repotnya lagi, kita terlanjur terbiasa belajar agama Islam dari berbagai sumber yang berlainan. Ketika semakin banyak kita temui perbedaan pandangan, kita malah makin bingung. Pusiiing…
Akibatnya, menata pikiran kita sendiri tentang keberagamaan kita masing-masing bukanlah pekerjaan yang mudah. Bagaimana mungkin kita mampu menata pikiran, sedangkan kita tak tahu caranya?
Aduuuhhh… jadi tambah pusing. Nggak jadi tenang. Trus, gimana, dong?
Copy the Master
Dalam kebingunganku itu, Dik, seorang profesor memberiku sebuah saran praktis: Copy the master. Maksudnya, “Sampai kau berhasil menata pikiranmu sendiri, tirulah pola pikir beberapa orang yang kau kagumi. Caranya, jadikanlah mereka ‘guru’ favoritmu untuk sementara!”
Agar bisa meniru sang ‘guru’ favorit kita, lebih dahulu harus kita ketahui pola pikirnya. Untuk dapat mengetahuinya, harus kita kaji kata-katanya secara mendalam. Lewat ucapan lisannya boleh, melalui tulisannya boleh pula.
Tapi, Dik, pola pikir itu biasanya tersaji paling rapi dalam bentuk buku. Sebab itu, sebaiknya kita lebih mengutamakan membaca buku-buku karya sang ‘profesor’ ketimbang ceramah, seminar, dan talk show-nya.
Mengingat keterbatasan sumberdaya kita, orang yang kita jadiin ‘profesor’ favorit itu cukup beberapa gelintir saja. Tiga atau empat, misalnya. Merekalah yang kita prioritaskan. Dari keseluruhan sumberdaya kita (waktu, uang, dsb), kita alokasikan 80-90 persennya untuk buku-buku karya mereka. Kemudian, begitu kita mulai mampu meniru pola pikir ‘guru’ favorit itu, persentase alokasi tersebut dapat kita turunkan sedikit demi sedikit.
Ingat, Dik, yang kita tiru adalah pola pikirnya. Kita tidak hendak menyalin atau pun menghafal buah pemikirannya. Bisa saja, dengan pola pikir yang sama dan terhadap persoalan yang sama, pemahaman kita berbeda dengan hasil pemikiran sang ‘guru’. Ibaratnya, dengan jurus silat yang sama untuk menghadapi lawan yang sama, hasil tanding silat kita dapat berbeda dengan yang pernah dicapai oleh sang guru silat kita.
Begitu kita mampu meniru jurus sang ‘guru’, yang berarti sudah mampu menata pikiran, awas! Kini saatnya memodifikasi jurus itu atau bahkan menciptakan jurus yang sama sekali baru. Sekarang waktunya memiliki sistem pemikiran tersendiri. Jangan terus-terusan menjadi peniru sang ‘profesor’!
Dalam buku Tasauf Modern, Profesor Hamka udah ngingetin kita: “Ummat Islam disuruh menjadi penyaring, jangan menjadi ”nrimo wae”, terima saja, laksana muara air yang dilalui ikan, buaya, kapal, dan dilalui bangkai. Tetapi memilih mana yang baik, memperbaiki mana yang patut dan melemparkan barang yang tidak baik.” [Lihat QS az-Zumar [39]: 17-18.] Islam dengan keras mengkritik orang yang berkata: ”Demikian yang kami terima dari nenek-moyang kami!”” (hlm. 109) “Jangan mengikut saja akan pendapat orang yang telah menyelidiki. Karena buah penyelidikan mereka berlain-lain menurut kadar faham masing-masing dan menurut tempat dan zamannya. Tetapi berusahalah supaya diri sendiri menjadi penyelidik pula.” (hlm. 113)
Akhirnya, ketika telah kita miliki sistem pemikiran tersendiri yang sesuai dengan kepribadian (dan lingkungan) kita, barulah kita ‘lulus’ dari ‘perguruan’ ini. Sebaliknya, kalau kita belum mampu menata pikiran kita sendiri walau sudah mengerahkan begitu banyak sumberdaya, mungkin lebih baik kita beralih ke ‘profesor’ favorit lain.
Supaya Tidak Bingung di Era Informasi
- Tatalah pikiran Anda, sehingga Anda bisa berpikir lebih jernih.
- Kalau belum mampu menata pikiran diri-sendiri, tirulah pola-pikir ‘profesor’ favorit untuk sementara, dan kemudian berusahalah supaya diri sendiri menjadi penyelidik pula.