Kendaraan Profesor ke Surga

Assalaamu ‘alaikum, para pembaca…

Apa kabar? Sudah jadi ‘profesor’? Sudah mengangkat beberapa orang menjadi ‘profesor’? Kalau sudah, alhamdulillaah…

Bila belum, kami pun maklum. Menata pikiran tidaklah mudah. Apalagi bagi yang belum terbiasa. Karena itu, untuk sementara, silakan pembaca mengangkat seseorang menjadi ‘guru favorit’ alias ‘profesor’ walau tidak tergolong jenius, khusus untuk mengajarkan berbagai hikmah yang terkandung di buku ini. Silakan pilih. Ayah boleh, kakak kandung boleh, kakak angkat pun boleh.

Silakan Pilih Guru Favorit

Hmmm…. Mungkin di antara pembaca ada yang berpikiran mau ngangkat kami jadi ‘profesor’ untuk sementara sampai halaman terakhir buku ini. Bagaimana, ya? Hmmm….
Boleh… Hanya saja, siapalah kami ini selain orang yang sukanya nyindir sana nyindir sini?

Boleh kau garisbawahi, kami adalah penulis yang suka menyindir. Sindiran halus, tentu saja. Tapi yang kami rasa halus mungkin kaurasa kasar. Maaf, ya!

Gimana? Apa kau gampang sakit hati bila disindir kasar dan dikritik keras? Kalo iya, sebaiknya ibumulah yang kau angkat jadi profesor. Barangkali akan beliau kemukakan dengan lemah lembut kepadamu sebuah hikmah: “Orang yang mampu menghargai perbedaan pendapat, Nak, layak kau angkat jadi guru favoritmu.”

Tapi, kalau kau udah mantep milih kami jadi profesormu, oke. Simak baik-baik, ya! Kami mo ndongengin cerpen Ahmad Nurullah, “Profesor”, dalam versi kami sendiri. Abis permak, kemiripannya tinggal dikit. Nggak nyampe 20 persen. Sadis, ya?

Dalam versi ‘sadis’ kami, salah seorang di antara kami (selanjutnya disebut “aku”) ‘menyusup’ ke dalam cerpennya. Diam-diam, aku mainkan peran tokoh utama. Di dalam cerpen yang telah kupermak inilah aku mengaku-aku sebagai profesor, kayak yang kudongengin di bawah ini.

Teknologi Tepat Guna

Pada suatu hari, ketika aku udah dijadiin guru favorit, terdengar sapaan tertuju padaku: “Assalaamu ‘alaikum, Prof!”

Aduh, jeritku dalam hati. Lagi-lagi kalian, para pembaca! Kerjanya hanya mengorek-ngorek saja kalian. Mengorek-ngorek emas berkilo-kilo dari buku kami cuma dengan rupiah beberapa ribu. Itu pun kalau beli, bukan pinjam teman atau perpustakaan.

“Wa ‘alaikumus salaam.” Aku berusaha tersenyum, lalu menggiring kalian ke istanaku. O, tidak, ke ruang tamu. “Apa yang mau kalian tanyakan?”

“Sudah bertahun-tahun sosok Profesor tidak muncul di dunia dakwah. Padahal pada zaman seperti sekarang ini sungguh sangat dibutuhkan dai-dai ulung, yang mampu secara tajam melihat kenyataan, apa yang sesungguhnya dipikirkan, dirasakan, dan dialami oleh obyek dakwah. Ya, dai yang tidak cuma lantang mengumandangkan ayat Qur’an bermodal loudspeaker besar! Kami ingin diberi pengajian, teknologi tepat guna apa yang sesuai dengan kesengsaraan umat.”

“Yang kalian cari sudah kusampaikan di buku ini sejak puluhan halaman yang lalu.”

“Tapi ada kegamangan antara kata-kata penulis dan pemahaman pembaca, Prof!”

Huuuh!! Ternyata kalian tak pernah letih menyudutkan diriku. Aku sendiri, karena capek ngetik, asal-asalan ngejawab: “Aku maklum. Kalian memang tidak secerdas ibu kalian. Baiklah, kuberi tahu. Teknologi tepat guna yang kalian butuhkan itu bernama ‘rahim’.

“Artinya?” tanya kalian antusias.

“Selaku dai, lindungilah para obyek dakwah di rahim kalian. Dengan sifat rahimiah kalian, akan lahirlah mereka sebagai bayi yang suci tanpa dosa. Tapi, kalau kalian perlakukan perut kalian sembarangan, teriak-teriak pakai loudspeaker besar dan jingkrak-jingkrak terus-terusan, bisa-bisa kalian keguguran. Hasilnya, bayi macam apa yang kalian lahirkan ketika keguguran?”

“Posisi kami saat ini bukan dai, Prof! Sekarang ini kami justru menjadi obyek dakwah yang sedang meringkuk ketakutan di rahim sekelompok dai yang teriak-teriak pakai loudspeaker besar dan jingkrak-jingkrak terus-terusan. Tolonglah, selamatkan kami,” rengek kalian.

Kepalaku mengangguk-angguk, tapi tanggapanku makin asal-asalan: “Pintar-pintarlah kalian mainkan peran janin ajaib! Kalian kan bisa pindah ke lain rahim. Pilihlah profesor favorit yang mirip ibu kalian! Sebab, di bawah telapak kaki ibulah, surga terletak.”

Kalian bingung? Tenanglah. Sebelum kata-kata yang asal-asalan itu berlanjut ke tingkat kerumitan yang lebih memusingkan kalian, aku telah sadar. Perutku, yang beberapa bulan belakangan ini membuncit dan terus membuncit, kuelus-elus. Ada gerak-gerik lambat di rahimku. Dalam hati, aku bertanya-tanya: Kapan, ya, si kecil lahir?

Nggak ada yang ngejawab. Aku diam, kalian diam.

Entah pikiran apa yang berkecamuk di kepala kalian. Emangnya, gue pikirin? Konsentrasiku sedang tertuju pada si kecil.

Lalu tiba-tiba aku merasa, telapak tangan seseorang menempel lembut di punggung tanganku, lalu mengikuti elusanku di perut yang membuncit. Rupanya suamiku. Entah sejak kapan dia memperhatikan pembicaraan kita.

Seraya menatapku mesra, dia menghiburku: “Kerinduanmu untuk menjadi seorang ibu dapat mengantarkanmu ke surga.”

Aamiiin, jawabku dalam hati. Ya… siapa tau, tidak hanya kerinduan terhadap shalat dan mati syahid yang bisa membawa kita ke taman surga.

“Sudahlah, Bu.” Lengan suamiku kini menggapai pundakku dari samping. Perlahan dan penuh kasih-sayang. “Ibu sebaiknya istirahat dulu. Habis istirahat, bisa ngetik lagi.” Aku tersenyum bahagia. :)

Akhirnya, dengan sopan aku antar kalian ke pintu pagar. Satu pesanku: “Surga sedang merindukan kalian ketika kalian siarkan kata-kata guru favorit kalian.”

Kalian pun melesat pergi. Dengan wajah polos bagai bayi tanpa dosa, kalian siarkan mutiara kata-kata dari buku ini.

Ngapain Ngobral Kata-Kata?

“Assalaamu ‘alaikum, Prof!” Lagi-lagi kalian, para pembaca, datang untuk mencuri harta kami: kata-kata! Entah apa lagi yang mau kalian congkel dari tulisan kami. Aku tak tahu. Jangan-jangan, kalian pejabat kepala Kantor Pelayanan Pajak yang menyangka kami penjual debu yang bertabur mutiara. Mungkin kalian belum tahu bahwa tak peduli apakah kami kaya-raya ataukah miskin-papa, penghasilan kami dipotong pajak limabelas persen oleh pemerintah.

“Wa ‘alaikumus salaam,” jawabku, tersenyum kecut. “Apa lagi yang mesti kukatakan kepada kalian? Semuanya telah habis kalian curi tanpa sisa. Tiada lagi ilmu dan pengetahuan kami yang belum kalian ketahui. Kenapa ke sini lagi?” tanyaku keheranan. Ah… Apalah artinya kami, penjual kata-kata mutiara yang berkeringat debu.

“Ke sini untuk belajar lagi, Prof. Kami tak ingin sok tahu. Tapi, apa arti sok tahu, kami belum tahu pasti. Tolong sodori kami definisinya menurut Profesor. Kalo bisa, yang tegas dan singkat, buat kami jadiin pegangan!”

“Sok tahu berarti mengabaikan kenyataan bahwa Allah Mahatahu. Singkatnya, sok tahu adalah mengabaikan Allahu a’lam,” tukasku tegas.

Lalu kalian nyahut: “Wallahu a’lam bish-shawab… Wallahu a’lam bish-shawab… Wallahu a’lam bish-shawab….” Entah berapa kali kalian ngucapin kata-kata ini.

“Hey!” tegurku. “Ngapain ngobral kata-kata wallaahu a’lam tanpa penghayatan dan pengamalan? Lebih baik, tunjukkanlah dalam sikap dan perilaku dakwah kalian bahwa kalian tidak sepenuhnya tahu. Mungkin saja, obyek dakwah kalian lebih tahu ketimbang kalian.”

Program Jangka Pendek-Panjang

“Pertanyaan terakhir, Prof. Apa program jangka pendek dan jangka panjang Profesor? Menyebarkan artikel-artikel dan mengaktifkan diri dalam perdebatan-perdebatan di internet seperti dulu?”

“Tidak,” jawabku lugas. “Sumberdaya kami pada saat ini tidak memadai lagi untuk berselancar di dunia maya. Merosotnya nilai tukar Rupiah dan membubungnya harga BBM pada tahun 2005 ini membuat segalanya berubah. Kalian mau tahu program jangka pendek dulu apa jangka panjang dulu?”

“Profesor lebih tahu, bagusnya yang mana dulu,” jawab kalian. Ternyata kalian bisa bersikap manis. Good.

Dengan senyum manis, :) aku ketikkan program jangka panjang kami: “Mengembangkan ‘kendaraan-kendaraan angkutan umum’, terutama melalui program-program jangka pendek, yang insya’ Allah dapat mengantarkan kita ke dalam surga kelak.”

“‘Kendaraan umum’? Mengapa bukan ‘kendaraan pribadi’? Bukankah pembangunan di negeri Indonesia pada masa sekarang lebih mengutamakan kendaraan pribadi daripada kendaraan umum?”

Sebabnya:

Barangsiapa yang mengajak (orang-orang) kepada petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim, No. 2674.)

Sesaat aku diam, nunggu respon kalian.

“Terus, apa saja program jangka pendeknya?” Rupanya kalian bener-bener penasaran. Betul-betul pembaca yang manis.

Dengan senyum manis lagi, :) aku ketikkan tiga program jangka pendek kami: “(1) Membaca buku islami, (2) Menulis buku islami, (3) Membaca dan sekaligus menulis buku islami.”

“Mengapa membaca dan menulis lagi buku-buku islami?”

Sebabnya: membaca dan menulis buku itu berarti juga sekaligus mendengar dan menyiarkan materi pembelajaran. Padahal, “Barangsiapa menempuh jalan pembelajaran, niscaya Allah memudahkan baginya dengan itu, jalan menuju surga.” (HR. Muslim, No. 2699.)

Jalan Anda Menuju Surga

  1. Ulama atau ‘profesor’ yang mampu menghargai perbedaan pendapat akan melapangkan jalan Anda menuju surga.
  2. Pilihlah ‘profesor’ favorit yang ‘mirip’ ibu kalian! Sebab, di bawah telapak kaki ibulah, surga terletak.
  3. Tunjukkanlah dalam sikap dan perilaku dakwah Anda bahwa Anda tidak sepenuhnya tahu. Mungkin saja, obyek dakwah Anda lebih tahu ketimbang Anda.
  4. “Barangsiapa menempuh jalan pembelajaran, niscaya Allah memudahkan baginya dengan itu, jalan menuju surga.” (HR. Muslim)