Bidadari Profesor

Naskah Buku *Raihlah Surgamu* (Renungan tentang Cinta dan Kehidupan)

Jadilah Profesor Cintaku, Dik!

Catatan Pengantar:

Di bab yang lalu, telah kita kaji ciri-ciri sok tahu. Di bab-bab sebelumnya, sudah kita renungkan betapa pentingnya belajar (dan menyiarkan ilmu) bagi siapa pun, baik yang sudah pintar maupun belum pintar. Itu semua masih teoritis. Sekarang, di bab ini, dapat kita saksikan contoh konkret penerapan teori-teori tersebut.

Untuk itu, di sini kami kutipkan sepucuk surat dari Ais kepada sang ‘adik angkat’, si penerima “Surat Cinta Ketigabelas”. (Lihat Bab 1.) Surat kali ini berisi tanggapan-balik dari Ais terhadap tanggapan adiknya yang murka mendapati rencana Ais. Sebelumnya, Ais memang berencana hendak “menyambung tali silaturrahim” dengan “menghalalkan segala cara” dalam rangka mengamalkan ilmu cinta semaksimal mungkin.

Lanjutan Surat Cinta Ketigabelas

Assalaamu’alaikum, adikku….

Untuk kesekian kalinya, kutulis lagi surat untukmu berlembar-lembar. Aku menulis lagi, menulis surat balasan, begitu kusadari betapa dahsyatnya pengaruh ‘sok tahu’-ku terhadap hubungan persaudaraan kita. Betapa ‘sok tahu’-ku membuatku menjadi tiada apa-apanya di depanmu.

Mengingat ‘sok tahu’-ku itu, tak pantas aku menulis, apalagi menjadi penulis. Namun kurasa, para pembaca berhak belajar dari kebodohanku. Karena itu, Dik, kujadikan surat balasan ini surat terbuka pula.

Ketika Gelap Tiba

Begini, Dik…. Surat terakhirmu itu menyentak jiwaku. Kata-katamu tak sehalus biasanya, tapi aku bisa mengerti. Mungkin ada kalanya memang aku perlu kau kasari.

Aku nggak pernah ngomong sekasar [surat] ini sebelumnya. Bahkan waktu Mbak M ke sini pun, aku masih nenggang perasaan kalian dengan mohon maaf lebih dulu sebelum kusampaikan bahwa kalian semua nggak kuinginkan ada disini karena menggangguku dan keluarga besarku. [Mbak M ialah si Dewi Pelangi, yang dongengnya dapat kita simak di Lampiran, "Kearifan Seorang Kyai Muda".]

Maafkan kami, Dik. Kedatangan kami ke rumahmu dengan maksud menyambung tali silaturahmi dan mengetahui keadaanmu ternyata justru sangat mengganggu dirimu dan keluarga besarmu.

Seandainya kami tahu tidak kau ijinkan mengunjungimu, tentu kami nggak bakalan datang. Seperti dulu, dua atau tiga tahun yang lalu. Waktu itu kami dari pedalaman Jawa telah setengah jalan, sudah sampai di ibukota kita. Tapi kami tidak melanjutkan perjalanan menyeberangi Selat Sunda karena mendengar suaramu lewat telpon.

“Nggak boleh!” jawabmu saat itu ketika kuberitahukan maksud kami hendak bertamu ke rumahmu. Kenapa nggak boleh? “Pokoknya nggak boleh!” tegasmu tanpa memberi penjelasan. Karenanya, walau penasaran, kami urungkan niat itu.

Namun yang kemarin itu, Dik, tak sepatah kata pun kami terima pesan darimu. Tiga kali kami kirim surat memberitahukan maksud kami, tetapi tiada balasan darimu. Berulang-kali kami berusaha menghubungimu lewat telpon, tetapi tak pernah berhasil.

Berjuta tanya menggelayuti pikiran kami: “Ada apa dengan ‘adik’ kami yang satu ini? Apakah telah terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya? Apakah kejadian buruk ini gara-gara kesalahan kami? Kalau gara-gara kesalahan kami, mana tanggung jawab kami? …” Inilah yang mendorong kami menjalankan rencana berkunjung ke rumahmu kemarin itu.

Mungkin kau berpikiran, karena pesan kami kau diamkan, mestinya kami tahu diri. Mestinya kami tahu sendiri, kau larang kami mengunjungimu. Tapi, Dik, kami nggak tahu bahwa pesan kami kau diamkan. Kami nggak tahu kau ada di mana. Udah pindah ke tempat lain atokah belum. Surat kami sampai ke tanganmu atokah enggak. Bahkan, saat itu kami tak tahu, kau masih hidup ataukah telah wafat. Tak seorang pun mengabarkan keadaanmu kepada kami.

Dengan penjelasanku ini, Dik, bukan berarti aku menyalahkanmu lantaran tidak memberitahukan laranganmu kepada kami sebelumnya. Yang pasti, aku tidak tahu kenapa nggak kau kabarkan kepada kami tanggapanmu terhadap rencana kunjungan kami itu. Sebab itu, kalau menyalahkanmu, maka aku menjadi sok tahu karena mengambil kesimpulan tanpa dasar yang kuat.

Jalan Buntu di Depan Kita

Boleh tanya Mbak M klo nggak percaya bagaimana aku berusaha SANTUN thd dia (meski sedianya aku bisa langsung berlaku kasar!)

Benar, Dik. Kau selalu santun, sangat santun, termasuk terhadap orang yang tak kau kehendaki keberadaannya. Belum pernah kami temui orang yang lebih santun ketimbang dirimu. I believe in you. Aku nggak perlu tanya padanya.

Lagipula, sebelum aku tanyai, ‘mbakmu’ itu udah cerita betapa dia terkesan atas sikapmu waktu itu. Maka darimu kami belajar, kami harus senantiasa berusaha santun. Termasuk terhadap orang yang tidak kami kehendaki keberadaannya sekalipun.

Kalau kau sampai ngomong kasar, Dik, tentu ada penyebabnya yang luar biasa. Sesuatu yang bersifat darurat. Umpamanya, karena orang yang kau kasari itu telah bikin ulah yang amat sangat keterlaluan banget. Bila kau tidak ngomong kasar, maka keterlaluannya malah akan bertambah-tambah. Begitulah pelajaran yang kami tangkap darimu.

Selain itu, Dik, aku pun belajar, sudah selayaknya kubalas orang yang berlaku santun dengan sesuatu yang lebih menyenangkan.

Liat balasan apa yang kudapat sekarang? Nggak taunya sekarang bikin keadaan malah makin PARAH! Perlakuan yang lebih nggak menyenangkan!

Diberitahu oleh ‘mbakmu’ mengenai misi silaturahmi kami yang gagal itu, aku merasa sangat terpukul. Kecewa banget. Kau tahu, kan, berkali-kali sudah aku berdakwah tentang silaturahmi. Tapi ternyata, aku sendiri gagal menerapkannya. Aku jadi kalut.

Lalu pada hari itu juga, kulayangkan surat kepadamu. Isinya: ajakan mencari jalan tengah.

Buatku takkan pernah ada solusi jitu buat selesaikan masalahku dg kalian!!

Dua hari kemudian, aku masih stres. Belum ada balasan darimu. Tanpa pertimbangan matang, langsung kau kukirimi surat lagi. Kalau tak ada solusi yang 100% jitu, 75% jitu pun lumayan, pikirku. Maka di surat terakhir itu kukatakan:

Jika kau bersikeras tetap memutus tali silaturahmi kita, maka kami segera pindah rumah sedekat-dekatnya dengan tempat tinggalmu. Bersebelahan kalau bisa. Kami rasa, kamilah penyebab putusnya hubungan persaudaraan kita. Karenanya, adalah tanggung jawab kami untuk semaksimal mungkin berikhtiar menyambungnya kembali.

Tambah sia-sia ikhtiar kalian! Sekali lagi, usaha kalian kembali ke titik nol, bahkan sekarang minus ~!!

Di Jalan Ilmu, Siapakah Aku?

Membaca tanggapanmu tadi, Dik, barulah aku sadar: Rupanya, kau amat sangat tak suka tinggal berdekatan dengan kami. Kalau kami ngontrak rumah kosong yang berada tepat di depan rumahmu, tingkat kejituan solusi ini mungkin saja cuma nol persen atau bahkan minus. Tepat seperti penilaianmu.

Namun sebelum kutahu penilaianmu ini, Dik, di surat terakhir itu telah kukatakan pula:

Kalau dalam satu bulan tidak kami terima lagi kabar darimu, kami anggap rencana kami tidak kau tolak. Karenanya, kami hendak memberitahu orangtuamu mengenai rencana kepindahan kami.

Men-deadline-ku seenak perut kalian?!! Kalian pikir kalian siapa??

Kami adalah penulis-penulis yang sedang lemah iman pada saat itu. Stres karena gagal menerapkan ilmu kasih-sayang yang sering kami dengang-dengungkan dalam tulisan-tulisan kami. Lebih-lebih, kegagalan ini justru terjadi pada hubungan persaudaraan kami dengan orang-orang yang paling kami sayangi, cintai, dan rindui.

Kalian cuma orang-orang SERAKAH yang mau menang sendiri. Mau enak sendiri. Mau tenang sendiri. Mau dipuaskan hawa nafsu batin kalian sendiri. Dikitpun nggak mikir keadaan orang lain. Gimana perasaan orang, nggak kalian tenggang!

Iya, Dik. Aku tak tahu keadaan dirimu, apalagi perasaanmu. Terima kasih atas pelajaran darimu ini. Tambahi ilmu lagi, dong!

Menurut kalian, dengan jalan ini kalian telah menyelamatkan aku dari neraka, tapi kenyataannya justru terbalik. Bahkan bisa2 aku makin terpuruk di kerak neraka karena membenci kalian. Itu kan yg kalian mau?

Tentu tidak. Kami ingin kita kelak sama-sama berada di taman surga dan terhindar dari siksa neraka.

Alhamdulillah! Mudah-mudahan kalian sadar bahwa saat kalian merasa benar, belum tentu bagi orang lain juga benar!

Ya. Kini aku sadar, aku sama bodohnya dengan anak muda berpeci dalam esai Emha, “Maha Satpam”. Dia hendak memberantas syirik sampai titik darah terakhir tanpa penelitian mendalam terhadap obyek dakwah. Sedangkan aku bertekad berikhtiar sampai hembusan nafas terakhir untuk menyambung kembali tali silaturahmi denganmu tanpa penelitian mendalam mengenai keadaanmu.

Sebab itu, tak pantas aku mengguruimu. Tak layak kusebut diriku guru. Calon guru pun terlalu muluk.

Yang pas, aku hanyalah seorang murid kecil yang ingin mempelajari kembali ‘matakuliah’ ilmu hubungan kasih-sayang. Sebab, ibarat ujian semesteran, nilaiku sekarang: “E”.

Aku perlu diajari… eh, tidak hanya diajari. Yang lebih penting, aku harus dididik sedemikian rupa sehingga sifat serakah pada diriku bisa tersingkir. Dan tiada ‘dosen’ ilmu kasih-sayang yang mampu melakukannya selain dirimu. Sebab itu, jadilah guru besarku, Dik! Jadilah profesor cintaku!

Kepadamu Aku Berserah Diri, Prof!

Kalo kalian berani men-deadline-ku dan ‘memaksa’ aku memenuhi keinginan kalian, maka aku juga berani memaksa kalian memenuhi syaratku. Aku setuju ‘berkirim kabar’… Syaratku mudah: Ganggulah aku, HANYA AKU! BUKAN KEDUA ORANGTUAKU… karena mereka bisa MATI sakit jantung! Meskipun nyawa & ajal milik Allah, tapi kalo salah satu pemicunya karena ulah kalian, maka dunia akhirat AKU NGGAK RELA!

‘Hanya’ menyampaikan kabar rencana kepindahan kami kepada kedua orangtuamu bisa berakibat sefatal itu? Aku kaget banget, Dik. Sungguh tak pernah kusangka sebelumnya. Terlintas di benakku sekilas pun tidak pernah. Masya’Allaah…. Tolol sekali aku.

Pantesan, kau nggak rela dunia-akhirat. Aku maklum, Dik. Aku pun bisa memahami kenapa tadi kau bilang, “takkan pernah ada solusi jitu”. Tentu kau pertimbangkan risiko seberat itu saat kau lihat kami ‘berdiri tegak berkacak pinggang’.

Ganggulah AKU SAJA, bukan keluargaku, maka syarat yang kalian ajukan aku sepakati. Tapi kalau kalian INGKAR, aku TAKKAN BERDAMAI dengan kalian!!

Aku sudah terlalu tua untuk ‘berdiri tegak berkacak pinggang’. Apalagi kalau kelamaan. Sebentar saja, ‘pinggang ke bawah terasa pegal-pegal’. Menyimak risiko berat yang kau tanggung itu, aku langsung bertekuk lutut. Menyerah tanpa syarat.

Maka kepadamu, Dik, aku berserah diri. Seperti Musa muda saat berguru kepada nabi Khidhir. Dengan berguru kepadamu, kuharap aku dapat menerapkan ilmu kasih-sayang pada tempatnya. Bagaimana?

Semua ciptaan Allah adalah guru, silakan ambil pelajaran.

Makasih, Dik. Jadilah kau guru besarku, profesorku! Mau, ya?

Berapa kalimat yang kau ajarkan, aku serahkan pada kebijaksanaanmu. Akan kau sampaikan sekaligus ataukah bertahap, kau pula yang menentukan.

Meski aku nggak ingin (Mbak M pun udah kukasi tau kmrn), tapi aku terpaksa menyebut ini: Kau dapat inspirasi buat nulis dari hasil berkenalan denganku. Bisa bikin tulisan. Bisa terbitkan buku. Bisa dapat uang dari situ. Tapi uang itu Kau gunakan untuk hidup dan MENGGANGGUKU!

Benar, Dik. Kaulah inspirasi kami. Tanpa kehadiranmu, kami takkan mampu menulis buku. Tanpa bantuan dirimu, tentu sudah lama kami tidak ber-KTP lagi. Tanpa kasih-sayangmu, pasti sudah sejak dulu kami terpuruk menjadi gelandangan. Berkat kamulah, Dik, kami bisa hidup selayaknya.

Seandainya syirik tidak haram, Dik, aku mau bersujud terus di bawah telapak kakimu. Tapi karena kita dilarang menyembah apa saja selain Allah, biarkanlah kami balas ‘air susu’-mu dengan menempatkan ketenangan hidupmu sebagai prioritas utama dalam kehidupan kami.

Demi Ketenangan Hidupmu

Katanya ketenanganku jadi prioritas utama, tapi mana buktinya? JAUH!!

Tidak kami pungkiri, Dik, belakangan ini kami masih gagal. Meski sudah kami prioritaskan, masih saja kau merasa nggak tenang.

Kami belum menemukan tindakan yang tepat untuk itu. Sudah kutanya padamu, “Apa saja yang dapat kulakukan yang bisa membuat kau tenang?” Jawabmu: “Pintar-pintarlah! Jangan desak aku mengatakannya!”

Apakah maksudmu, mestinya aku tahu sendiri? Bagaimana kalau aku terlalu bodoh, sehingga takkan pernah temukan sendiri jawabannya? Tidak bisakah kau beri petunjuk padaku?

Dalam kegelapan begitu, Dik, kami melangkah. Menghadapi persoalan kita yang berlarut-larut ini, kami tempuh metode coba-coba (trial and error) melulu. Hasilnya tak pernah memuaskan. Terkadang malah bikin tambah parah seperti yang sudah kita bicarakan di atas.

Lebih parah lagi, kami belum tahu betul inti permasalahan kita. Kami masih meraba-raba dalam kegelapan.

Berikut ini, kusampaikan empat laporan ‘pandangan mata’-ku yang terkini di dalam kegelapan ini. Setiap kali kau dapati kesalahan, koreksilah! Matamu lebih tajam ketimbang mataku.

(1) Dua tahun pertama persaudaraan kita berlangsung dalam suasana yang begitu cerah. Kita saling dukung layaknya saudara. Malah, kau pun banyak menolongku hingga aku bisa menjadi penulis.

Namun, Dik, di benakku kini terbersit pertanyaan: Apakah kaurasa selama ini kau hanya kami manfaatkan sebagai api inspirasi kepenulisan kami? Kalau iya, sebaiknya kutegaskan bahwa setulus-tulusnya kami menyayangimu, mencintaimu, merindukanmu. Bila kurang percaya, silakan kau suruh kami cari kerja yang lain, yang tidak memungkinkan kami jadikan kau sebagai api inspirasi. Pasti kami patuhi.

(2) Dalam dua tahun pertama itu, tak pernah kita bertengkar. Tapi sekali bertengkar, tahu-tahu ‘meledak’. Sejak itu kita berada dalam suasana yang begitu muram.

Katamu, kau tidak lagi merasa aman dan nyaman berhubungan denganku. Padahal, sebelumnya, kepada kamilah kau ‘berlabuh’ setiap kali mencari ‘tempat’ yang aman dan nyaman. Sampai-sampai, rahasiamu yang tergolong paling pribadi pun kau ungkap padaku.

Apakah kau takut rahasiamu itu kuungkap kepada orangtuamu, keluargamu, dan orang lain? Kalau iya, ketahuilah: tidak ada gunanya bagiku menceritakannya. Bahkan, jika membocorkannya, aku sendiri turut rugi besar karena pasti bakal kewalahan menanggulangi dampak negatifnya. Mudah-mudahan keteranganku ini bisa meredakan rasa takutmu.

(3) Kemarin, Dik, aku diberitahu ‘mbakmu’ sesuatu yang sebelumnya tidak kuketahui sama sekali. Katanya, walau sudah tiga tahun berselang, kau bilang masih ngeri mengingat pertengkaran itu. Bahkan sampai nangis lagi.

Kemarin itu ‘mbakmu’ melihat matamu berkaca-kaca. Tampak luka yang mendalam di dasar kedua bola matamu. ‘Mbakmu’ jadi terharu. Katanya, saat itu ia pengen banget memelukmu erat-erat. Tapi, karena merasa kau sedang ingin sendiri tak mau diganggu, kehendaknya itu tidak ia wujudkan.

Mendengar itu, aku menyesal bukan main. Harusnya aku dapat menjaga lidahku dalam pertengkaran itu. Pikirku, jahat sekali aku, kenapa ‘air susu’-mu kubalas dengan ‘air tuba’. Ingin rasanya aku bersujud di kakimu dan memohon ampun beribu-ribu ampun.

Kini terpikir olehku: Apakah kau takut pertengkaran kita yang menyakitkan itu terulang? Kalau iya, biarlah aku menjaga ‘jarak’ darimu, jauh dari tingkat keakraban yang pernah kita jalin. Biarlah aku posisikan diriku sebagai sekedar kenalan biasa yang takkan membicarakan persoalan pribadi, apalagi memperdebatkannya.

(4) Tak kupungkiri, saat bertengkar denganmu itu aku pun emosional. Kata-kataku kasar. Kekasarannya melebihi apa yang kau tulis di surat yang sedang kutanggapi ini.

Ketika itu pun, tak jarang aku lontarkan ancaman pedas. Bahkan lebih pedas daripada ancamanmu: “… kalau kalian INGKAR, aku TAKKAN BERDAMAI dengan kalian!!” Oleh karena itu, aku mohon maaf yang sepenuh-penuhnya.

Begitulah keteranganku, Dik. Semoga dengan keterangan barusan, kau bisa merasa lebih tenang. Kalau pun belum, silakan tunjukkan caranya, Prof!

Ketika Terang Tiba

Aku yakin dari apa yang udah kutulis tadi, kalian bisa menyimpulkan betapa aku tak lebih baik dari kalian. Lebih munafik, lebih dholim, lebih serakah bahkan. Aku akui itu. Tapi aku mesti sampaikan. Meski belum sepenuhnya, tapi cukup.

Adikku sayang… Apalah artinya sikap kasarmu satu kali ini dibandingkan sikap manismu yang pernah kurasakan jutaan kali? Apalah artinya 70 kalimat kasar tadi bila dibandingkan dengan 70 juta kata mutiara yang pernah kau kucurkan kepadaku?

Alangkah sok tahunya diriku kalau berani menilai dirimu hanya dari situ. Sebenarnyalah, kekasaran di suratmu yang sedang kutanggapi ini kulihat sebagai sebutir debu yang menempel di wajahmu. Cukup usap dengan selembar tisu, kian tampak jelaslah wajah aslimu yang begitu cemerlang bagai bidadari!

Yang mengharap pelajaran darimu,
Muridmu di lorong ilmu,
Ais

Pelajaran dari ‘Profesor Cinta’

  1. Mengambil kesimpulan tanpa dasar yang kuat bisa berakibat fatal.
  2. Balaslah ‘keburukan’ orang dengan kebaikan.
  3. Balaslah kebaikan orang dengan sesuatu yang lebih baik.
  4. Saat kalian merasa benar, belum tentu bagi orang lain juga benar.
  5. Semua ciptaan Allah adalah guru, silakan ambil pelajaran.
  6. Lidah itu lebih tajam daripada pedang.
  7. Orang yang baik bukanlah yang tak pernah berbuat salah, tetapi yang mau mengakui dan memperbaiki kesalahannya.

Comments are closed.